Irsyad Zamjani Kepala
Pusat Standar dan Kebijakan Pendidikan Kemendikdasmen
PADA 2009, Beverly Hall dinobatkan sebagai kepala dinas pendidikan
terbaik di Amerika Serikat. Di bawah kepemimpinannya, nilai ujian terstandar Negara Bagian
Georgia, Georgia criterion-referenced competency tests (CRCT),
di Distrik Atlanta melonjak tajam. Sekolah-sekolah yang sebelumnya tertinggal
mendadak menunjukkan kemajuan yang mengesankan. Banyak orang percaya mereka
telah menemukan resep reformasi pendidikan yang efektif.
Dua tahun kemudian, semuanya runtuh. Hasil investigasi Kantor
Gubernur Negara Bagian Georgia mengungkap 178 guru dan kepala sekolah dari 44
sekolah negeri di Distrik Atlanta secara sistematis mengubah jawaban murid pada
lembar ujian. Praktik itu berlangsung hampir satu dekade. Sejumlah guru
dipenjara. Hall sendiri dinyatakan bersalah karena membangun budaya 'target
atau mati'.
Persoalan skandal Atlanta bukan pada keberadaan tes atau jenis
tesnya, melainkan pada cara hasil tes digunakan. Bahkan penilaian yang
dilakukan guru sendiri pun, ketika menjadi penentu berbagai konsekuensi penting
(high-stakes) dan tidak disertai mekanisme pengendalian yang memadai,
rentan menghasilkan inflasi nilai atau bahkan kecurangan.
Analisis Pusat Asesmen Pendidikan Kemendikdasmen (2024) menunjukkan nilai
ujian sekolah yang menentukan kenaikan kelas atau kelulusan cenderung menumpuk
pada rentang 80-90. Distribusi seperti itu membuat kita sulit memperoleh
gambaran yang objektif mengenai kompetensi murid.
Kontrasnya terlihat ketika hasil tersebut dibandingkan dengan tes
kemampuan akademik (TKA), yang diselenggarakan dengan prosedur lebih
terstandar. Hasil TKA SD tahun ini, misalnya, rata-rata skor bahasa Indonesia
60,15 dan matematika 43,45. Pada bahasa Indonesia, hanya 23% murid yang
mencapai kategori baik hingga istimewa. Untuk matematika, angkanya jauh lebih
rendah lagi, yaitu hanya 19%.
Sayangnya, setiap kali hasil tes semacam itu dipublikasikan,
perdebatan kita hampir selalu berhenti pada satu pertanyaan: apakah nilai murid
tinggi atau rendah? Bahkan, sejumlah sekolah dan pemda lebih senang menyusun
rangking pencapaian. Padahal, ada pekerjaan yang jauh lebih penting.
Pemanfaatan hasil tes untuk perbaikan belajar.
Saat ini, pemerintah telah membagikan data digital hasil TKA
secara lebih luas kepada publik. Masyarakat bahkan dapat melihat capaian hingga
level subdomain kompetensi di tiap daerah. Untuk bahasa Indonesia, misalnya,
publik dapat melihat berapa persen murid yang mampu menjawab soal-soal yang
menguji kemampuan menarik inferensi dari teks atau kemampuan mengevaluasi isi
bacaan.
Pemerintah daerah dan sekolah bahkan memperoleh data hingga
tingkat individu murid. Itu harta karun diagnostik yang sangat strategis untuk
pembelajaran.
Selama ini data-data hasil belajar seperti PISA hanya diketahui
pada level makro sehingga kurang bermakna bagi tindak lanjut secara praktis.
Informasi yang lebih terperinci akan mampu memberi arah yang jauh lebih jelas
bagi pengambil kebijakan di semua lini.
Jika kelemahan terbesar murid dalam matematika berada pada domain
penalaran aljabar, pemerintah dapat memfokuskan pelatihan guru, bahan ajar, dan
contoh pembelajaran pada kompetensi tersebut. Pemerintah daerah dapat
mengarahkan pendampingan kepada sekolah yang paling membutuhkan.
Orangtua dan masyarakat pun memperoleh gambaran yang lebih utuh
mengenai tantangan belajar yang dihadapi anak-anak. Itu bisa membuat percakapan
tentang mutu pendidikan naik kelas. Tidak lagi berhenti pada tinggi-rendahnya
nilai atau usul-usul kebijakan yang generik, tapi bergeser pada diskusi
kompetensi spesifik mana yang perlu diperkuat bersama dan bagaimana caranya.
PEDAGOGI KONTINGENSI
Namun, semua manfaat itu baru akan terwujud jika informasi
tersebut benar-benar masuk ke ruang kelas dan memengaruhi cara guru mengajar.
Hasil asesmen sumatif seperti TKA tidak berhenti sebagai laporan capaian,
tetapi menjadi titik awal bagi asesmen formatif yang dilakukan guru setiap
hari. Dengan bekal informasi tentang kompetensi yang telah dan belum dikuasai
murid, guru memantau pemahaman mereka selama pembelajaran berlangsung dan
menyesuaikan langkah mengajar berdasarkan respons yang muncul di kelas.
Itulah yang oleh ahli pendidikan Dylan William disebut pedagogi
kontingensi. William mengibaratkan guru seperti seorang pilot. Pilot tentu
memiliki rencana penerbangan. Namun, ia tidak menerbangkan pesawat hanya dengan
mengandalkan rute yang telah dibuat sebelum lepas landas. Sepanjang perjalanan,
ia terus membaca instrumen navigasi, memperhatikan arah angin, cuaca, dan
berbagai perubahan kondisi yang memengaruhi penerbangan. Jika tidak, pesawat
bisa melenceng jauh dari tujuan.
Ruang kelas pun bekerja dengan cara yang sama. Guru yang baik
tentu menyiapkan modul ajar dan rencana pembelajaran. Namun, keputusan mengajar
tidak semata-mata mengikuti modul ajar yang telah disusun. Keputusannya
bersifat kontingen: bergantung pada bukti pemahaman dan respons murid selama
proses belajar berlangsung. Guru tetap memiliki tujuan yang sama, tetapi jalur
menuju tujuan itu selalu terbuka untuk dikoreksi.
LITERASI BUKTI
Pedagogi kontingensi menuntut guru secara konsisten mengambil
keputusan pembelajaran berdasarkan bukti. Oleh karena itu, selain
penyajian dashboard hasil tes yang lebih lengkap atau laporan
yang lebih terperinci, agenda yang tak kalah penting ialah membangun kapasitas
sekolah dan guru untuk membaca data.
Guru perlu memiliki kemampuan untuk menganalisis pola-pola yang
muncul, menghubungkannya dengan pengalaman belajar murid, menyusun hipotesis
penyebabnya, lalu merancang intervensi yang dapat segera diuji di kelas. Dengan
cara itu, data berubah menjadi pengetahuan profesional.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa meningkatkan kemampuan guru
memanfaatkan asesmen memberikan dampak lebih besar pada hasil belajar jika
dibandingkan dengan banyak kebijakan yang lebih mahal. Dalam studi John Hattie
(2007), misalnya, pemberian umpan balik pembelajaran sebagai tindak lanjut
asesmen memiliki effect size sekitar 0,95. Itu melampaui
berbagai intervensi yang lebih mahal seperti mengurangi jumlah murid dalam satu
kelas (0,21).
Mengurangi kelas yang terlalu padat agar proses belajar lebih
efektif, misalnya, perlu investasi sangat besar. Itu menuntut pembangunan ruang
kelas baru, penambahan guru, serta pembiayaan operasional yang terus meningkat
dari tahun ke tahun. Sebaliknya, melatih guru dengan benar memerlukan investasi
pengembangan profesional yang bisa jauh lebih minimal secara biaya.
Betapa pun pentingnya asesmen, ia hanyalah kompas. Yang membawa
agar murid sampai ke tujuan tetaplah guru yang mampu membaca kompas dengan
tepat.
