Tahun ajaran baru 2026/2027 seharusnya disambut dengan riuh tawa anak-anak di
halaman sekolah. Namun, bagi sejumlah Sekolah Dasar (SD) Negeri di berbagai daerah,
tahun ini justru diawali dengan keheningan yang mencemaskan. Fenomena krisis
murid kian meluas, memaksa kita bertanya: apa yang membuat para orang tua kini
berpaling ke sekolah swasta?
Krisis jumlah peserta didik baru ini bukan lagi kasuistis, melainkan potret nyata yang melanda
berbagai wilayah. Di Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, misalnya, tercatat ratusan SD Negeri
kekurangan siswa. Bahkan, ada 320 sekolah yang hanya mampu menjaring antara 11 hingga 28
murid baru, dan yang paling memprihatinkan, dua sekolah di antaranya hanya mendapatkan
satu siswa saja.
Cerita serupa berulang di tempat lain. Boyolali melaporkan bahwa sekolah yang selama ini
menyandang predikat "favorit" pun mulai kesulitan memenuhi kuota. Di Bantul dan Kota
Yogyakarta—yang karib dijuluki Kota Pelajar—ruang-ruang kelas juga makin lengang; salah
satunya SD Kintelan 2 yang hanya mendapatkan 6 murid baru. Tren mengkhawatirkan ini pun
telah menyeberang ke Jawa Timur, menyelimuti wilayah Madura, Ponorogo, Situbondo, hingga
Lumajang.
Lima Akar Masalah
Mengapa bangku-bangku sekolah negeri kini banyak yang kosong? Ketua Dewan Pakar Federasi
Serikat Guru Indonesia (FSGI), Retno Listyarti, memetakan lima faktor utama yang melatari
pergeseran besar ini:
1. Jarak dan Efisiensi Lokasi
Bagi orang tua anak usia dasar, kedekatan sekolah dengan rumah adalah harga mati demi
keamanan dan efisiensi waktu. Ketika lokasi SD Negeri dirasa terlalu jauh sementara ada sekolah
swasta di dekat rumah dengan kualitas yang tidak kalah baik, pilihan rasional orang tua tentu
jatuh pada opsi terdekat.
"Karena ini masih jenjang SD, orang tua tidak ingin anaknya menempuh perjalanan jauh. Mereka
lebih memilih menyekolahkan anak di lingkungan terdekat," ujar Retno.
2. Pergeseran Pola Pikir: Kualitas Over Label "Gratis"
Label "sekolah gratis" tidak lagi menjadi daya pikat utama. Ada pergeseran paradigma yang
mendasar di kalangan orang tua saat ini, di mana kualitas proses pembelajaran kini jauh lebih
diutamakan ketimbang sekadar efisiensi biaya. Mereka rela merogoh kocek lebih dalam asalkan
masa depan akademis dan karakter anak mereka terjamin.
3. Kebutuhan Fondasi Agama dan Karakter
Pendidikan agama kini menjadi salah satu variabel penentu. Banyak orang tua melihat usia SD
sebagai masa emas untuk menanamkan nilai-nilai spiritual. Di sinilah Sekolah Dasar Islam
Terpadu (SDIT) atau sekolah berbasis agama lainnya mengambil peran, memadukan kurikulum
nasional dengan pendidikan moral yang intensif.
"Orang tua yang bekerja sering kali merasa waktu mereka terbatas untuk mengajarkan nilai
agama secara mendalam di rumah. Mereka mempercayakan pemahaman itu tumbuh di sekolah
seperti SDIT," jelas Retno.
4. Kaku dalam Regulasi PPDB
Aturan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) yang secara ketat memprioritaskan usia (minimal
7 tahun) di jenjang negeri kerap kali mematahkan semangat orang tua. Khawatir anak mereka
yang sedikit di bawah usia tersebut otomatis tertolak, banyak keluarga memilih 'mengamankan'
kursi di sekolah swasta jauh-jauh hari sebelum proses PPDB negeri dimulai.
5. Migrasi Domisili Keluarga Muda
Terjadinya pergeseran demografi turut memengaruhi jumlah murid. Mahalnya harga properti di
pusat kota mendorong keluarga muda mencari hunian di pinggiran kota (suburban).
Konsekuensinya, sekolah-sekolah negeri di area perkotaan kehilangan basis calon muridnya
karena para orang tua lebih memilih fasilitas pendidikan yang tumbuh di dekat kawasan hunian
baru mereka.
Fenomena ini menjadi sinyal peringatan keras bagi pengelolaan sekolah negeri kita. Bukan
sekadar masalah kuantitas murid, melainkan sebuah evaluasi besar mengenai relevansi
kurikulum, fleksibilitas regulasi, dan kualitas pelayanan yang harus segera berbenah agar tak
kian tertinggal.
sumber : tribunnews.com
