Iklan

terkini

Sunyi di Ruang Kelas: Mengapa SD Negeri Kian Kehilangan Murid?

16 Juli 2026, 07.12.00 WIB Last Updated 2026-07-16T00:12:03Z
KEKURANGAN MURID - Ketua Dewan Pakar Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) Retno Listyarti menyebut, terdapat lima faktor yang menyebabkan banyaknya kursi kosong pada SD Negeri.


Tahun ajaran baru 2026/2027 seharusnya disambut dengan riuh tawa anak-anak di

halaman sekolah. Namun, bagi sejumlah Sekolah Dasar (SD) Negeri di berbagai daerah,

tahun ini justru diawali dengan keheningan yang mencemaskan. Fenomena krisis

murid kian meluas, memaksa kita bertanya: apa yang membuat para orang tua kini

berpaling ke sekolah swasta?


Krisis jumlah peserta didik baru ini bukan lagi kasuistis, melainkan potret nyata yang melanda

berbagai wilayah. Di Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, misalnya, tercatat ratusan SD Negeri

kekurangan siswa. Bahkan, ada 320 sekolah yang hanya mampu menjaring antara 11 hingga 28

murid baru, dan yang paling memprihatinkan, dua sekolah di antaranya hanya mendapatkan

satu siswa saja.

Cerita serupa berulang di tempat lain. Boyolali melaporkan bahwa sekolah yang selama ini

menyandang predikat "favorit" pun mulai kesulitan memenuhi kuota. Di Bantul dan Kota

Yogyakarta—yang karib dijuluki Kota Pelajar—ruang-ruang kelas juga makin lengang; salah

satunya SD Kintelan 2 yang hanya mendapatkan 6 murid baru. Tren mengkhawatirkan ini pun

telah menyeberang ke Jawa Timur, menyelimuti wilayah Madura, Ponorogo, Situbondo, hingga

Lumajang.

Lima Akar Masalah

Mengapa bangku-bangku sekolah negeri kini banyak yang kosong? Ketua Dewan Pakar Federasi

Serikat Guru Indonesia (FSGI), Retno Listyarti, memetakan lima faktor utama yang melatari

pergeseran besar ini:


1. Jarak dan Efisiensi Lokasi

Bagi orang tua anak usia dasar, kedekatan sekolah dengan rumah adalah harga mati demi

keamanan dan efisiensi waktu. Ketika lokasi SD Negeri dirasa terlalu jauh sementara ada sekolah

swasta di dekat rumah dengan kualitas yang tidak kalah baik, pilihan rasional orang tua tentu

jatuh pada opsi terdekat.

"Karena ini masih jenjang SD, orang tua tidak ingin anaknya menempuh perjalanan jauh. Mereka

lebih memilih menyekolahkan anak di lingkungan terdekat," ujar Retno.


2. Pergeseran Pola Pikir: Kualitas Over Label "Gratis"

Label "sekolah gratis" tidak lagi menjadi daya pikat utama. Ada pergeseran paradigma yang

mendasar di kalangan orang tua saat ini, di mana kualitas proses pembelajaran kini jauh lebih

diutamakan ketimbang sekadar efisiensi biaya. Mereka rela merogoh kocek lebih dalam asalkan

masa depan akademis dan karakter anak mereka terjamin.

3. Kebutuhan Fondasi Agama dan Karakter

Pendidikan agama kini menjadi salah satu variabel penentu. Banyak orang tua melihat usia SD

sebagai masa emas untuk menanamkan nilai-nilai spiritual. Di sinilah Sekolah Dasar Islam

Terpadu (SDIT) atau sekolah berbasis agama lainnya mengambil peran, memadukan kurikulum

nasional dengan pendidikan moral yang intensif.

"Orang tua yang bekerja sering kali merasa waktu mereka terbatas untuk mengajarkan nilai

agama secara mendalam di rumah. Mereka mempercayakan pemahaman itu tumbuh di sekolah

seperti SDIT," jelas Retno.


4. Kaku dalam Regulasi PPDB

Aturan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) yang secara ketat memprioritaskan usia (minimal

7 tahun) di jenjang negeri kerap kali mematahkan semangat orang tua. Khawatir anak mereka

yang sedikit di bawah usia tersebut otomatis tertolak, banyak keluarga memilih 'mengamankan'

kursi di sekolah swasta jauh-jauh hari sebelum proses PPDB negeri dimulai.

5. Migrasi Domisili Keluarga Muda

Terjadinya pergeseran demografi turut memengaruhi jumlah murid. Mahalnya harga properti di

pusat kota mendorong keluarga muda mencari hunian di pinggiran kota (suburban).

Konsekuensinya, sekolah-sekolah negeri di area perkotaan kehilangan basis calon muridnya

karena para orang tua lebih memilih fasilitas pendidikan yang tumbuh di dekat kawasan hunian

baru mereka.


Fenomena ini menjadi sinyal peringatan keras bagi pengelolaan sekolah negeri kita. Bukan

sekadar masalah kuantitas murid, melainkan sebuah evaluasi besar mengenai relevansi

kurikulum, fleksibilitas regulasi, dan kualitas pelayanan yang harus segera berbenah agar tak

kian tertinggal.

sumber : tribunnews.com

Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Sunyi di Ruang Kelas: Mengapa SD Negeri Kian Kehilangan Murid?

Terkini

Iklan