Iklan

terkini

Realita Pahit di Balik Slogan "MPLS Ramah": Ketika Tugas Seabrek Merampas Waktu Keluarga

Admin
19 Juli 2026, 12.46.00 WIB Last Updated 2026-07-19T05:52:55Z


PERSFEKTIF
- Setiap tahun ajaran baru, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) selalu menggaungkan narasi yang menyejukkan hati para orang tua: Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) yang Ramah, Aman, dan Menyenangkan. Tujuannya mulia, yakni menghapus jejak perpeloncoan masa lalu (MOS) dan menciptakan transisi yang nyaman bagi anak.

Namun, sebagai orang tua yang baru saja mendampingi anak melewati masa MPLS, saya harus menelan pil pahit. Slogan "MPLS Ramah Anak" di atas kertas, nyatanya masih jauh panggang dari api dalam praktiknya. Yang terjadi di lapangan bukanlah pengenalan sekolah yang menyenangkan, melainkan perpeloncoan gaya baru berbalut "tugas kreatif".

Idealnya, sepulang dari hari-hari pertama sekolah, meja makan menjadi tempat yang hangat. Orang tua bertanya, "Dapat teman baru siapa hari ini?" atau "Guru favoritmu yang mana?"

Realitanya? Anak saya pulang dalam keadaan kelelahan fisik dan mental, lalu langsung mengurung diri untuk mengerjakan tugas MPLS yang seabrek. Komunikasi antara saya dan anak terputus. Waktu yang seharusnya digunakan untuk membangun kedekatan * (bonding)* dan memberikan dukungan emosional di masa transisi, habis dirampas oleh tenggat waktu tugas.

Tugas-tugas yang diberikan tidak bisa dibilang ringan atau relevan dengan esensi "mengenal sekolah". Beberapa di antaranya meliputi:

  • Pembuatan Video Harian (Vlog): Anak dituntut membuat, mengedit, dan mengunggah video kegiatan harian. Bukankah ini justru memicu stres karena anak harus memikirkan konten, editing, dan engagement media sosial di hari pertama mereka sekolah?

  • Penugasan Bawaan yang Mengada-ada: Anak diwajibkan membawa makanan atau barang spesifik (yang seringkali menggunakan teka-teki membingungkan). Ini tidak hanya merepotkan anak, tetapi juga membebani orang tua yang harus berburu barang di malam hari.

  • Drama dan Prank: Ini yang paling mengecewakan. Panitia atau kakak kelas sengaja membuat skenario marah-marah palsu atau prank yang membuat siswa baru ketakutan, lalu diakhiri dengan tawa atau kejutan.

Apakah ini yang disebut ramah? Memberikan beban kognitif berlebih dan manipulasi emosional atas nama "tradisi"?


Keresahan saya sebagai orang tua ternyata sejalan dengan pandangan para ahli psikologi anak dan perkembangan. Praktik MPLS yang membebani siswa dengan tugas berlebih dan prank justru kontraproduktif terhadap tujuan pendidikan itu sendiri.


"Masa transisi ke sekolah baru secara alamiah sudah memicu kecemasan (anxiety) pada anak. Menambahkan tugas-tugas berat dan tekanan emosional di minggu pertama sama dengan memicu stres akut yang dapat menghambat adaptasi sosial mereka."

 

Berikut adalah bahaya MPLS yang "tidak ramah" dari kacamata psikologi:


1. Ancaman terhadap Rasa Aman Psikologis (Psychological Safety) Menurut psikolog, fondasi utama bagi anak untuk bisa belajar adalah rasa aman. Praktik prank atau drama marah-marah merusak rasa percaya anak terhadap lingkungan barunya. Ketika anak merasa terancam atau dipermalukan, amigdala (pusat rasa takut di otak) akan aktif, sehingga menonaktifkan kemampuan otak untuk berpikir rasional dan menyerap informasi positif.

2. Cognitive Overload (Beban Kognitif Berlebih) Fokus utama MPLS seharusnya adalah adaptasi sosial—mengenal tata letak sekolah, nama guru, dan membangun pertemanan. Memberikan tugas teknis yang berat (seperti membuat video harian) menyebabkan cognitive overload. Energi mental anak terkuras untuk hal yang tidak substansial, membuat mereka terlalu lelah untuk berinteraksi dengan teman sebaya.

3. Kehilangan Support System Utama Psikolog keluarga menekankan bahwa saat menghadapi lingkungan baru, anak sangat membutuhkan validasi dan komunikasi dua arah dengan orang tua di rumah. Ketika tugas sekolah membuat anak tidak punya waktu untuk berbicara dengan orang tuanya, anak kehilangan support system utamanya. Mereka dibiarkan memproses stres transisi sendirian.

Saya percaya banyak guru dan sekolah yang sudah berusaha keras menjalankan MPLS dengan benar. Namun, kita tidak bisa menutup mata bahwa "perpeloncoan terselubung" lewat tugas tak masuk akal masih menjamur.


MPLS harus dikembalikan ke khitahnya: Pengenalan, bukan Penugasan.


Sudah saatnya pihak sekolah mengawasi ketat panitia OSIS atau guru pendamping agar tidak memberikan tugas yang memisahkan anak dari waktu istirahat dan keluarganya. Kepada Kemendikbudristek, kami para orang tua memohon agar pemantauan dilakukan hingga ke akar rumput. Jangan biarkan anak-anak kami kehilangan senyum di hari pertama mereka, hanya karena sekolah gagal menerjemahkan kata "ramah" menjadi sebuah tindakan nyata.

Biarkan anak-anak kami pulang menceritakan nama teman barunya, bukan menangisi tugas video yang belum selesai di-render.


Persfektif dikirim dari Bapak Hendra - Cianjur

Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Realita Pahit di Balik Slogan "MPLS Ramah": Ketika Tugas Seabrek Merampas Waktu Keluarga

Terkini

Iklan