Oleh : Zahratussyta Aulya*
Tiada tutur yang sanggup menjadi pisau bagi ikatan
Sebab tulus telah lebih dahulu merajut sela sela rapuh
Hingga utuhnya tak mampu diurai badai.
Namun, adakah luput bagimu segala yang kupikul
Seperti merengkuh serpih serpih berserak,
membiarkan telapak berbunga perih
Agar yang sampai padamu hanya utuh, bukan retaknya.
Sebagaimana langit mengandung fajar
di rahim malam yang tak bertepi
Kau hanya tiba pada cahaya,
sedang aku telah lebih dulu
Berkali kali berdamai dengan gelap.
Kepada angin yang gemar menyimpan rahasia
Kurapal sebait tanya
Mungkinkah cinta memang tumbuh
demikian satu hati menjadi akar
Agar hati yang lain bebas
menjulang sebagai bunga?
Maka kubiarkan waktu
menjadi tangis sang buana
Meski tiap tetesnya
ia mengikis namaku
dalam dinding-dinding kenang.
*Penulis adalah seorang siswi di SMKN 1 Bojongpicung Cianjur
Kelas: XI TJKT 1
Jurusan: Teknik Jaringan Komputer dan Telekomunikasi
