Oleh : Lilis Rosidah
Kepala Sekolah TK Karakter Al-Ikhlas Campakamulya
"Seorang anak mungkin lupa
hadiah yang diberikan ayahnya, tetapi ia akan selalu mengingat waktu yang
dihabiskan ayah bersamanya."
Di balik lahirnya anak-anak yang
percaya diri, santun, mandiri, dan berakhlak mulia, terdapat keluarga yang
hadir dengan kasih sayang serta pendidikan yang konsisten. Di antara seluruh
anggota keluarga, sosok ayah memiliki peran yang sangat besar dalam membentuk
karakter anak. Sayangnya, dalam kehidupan modern, masih banyak ayah yang
menganggap tugas utamanya hanya sebatas mencari nafkah, sementara proses
pengasuhan sepenuhnya diserahkan kepada ibu.
Melalui Hari Keluarga Nasional
(HARGANAS) 2026 dengan tema "Ayah Wajib Hadir", kita
diajak untuk mengubah cara pandang tersebut. Kehadiran ayah bukan sekadar
fisik, tetapi juga hadir dengan hati, perhatian, teladan, komunikasi, dan
keterlibatan aktif dalam setiap tahap tumbuh kembang anak. Kehadiran itu
menjadi investasi jangka panjang bagi masa depan keluarga dan bangsa.
Sebagai Kepala Sekolah TK
Karakter Al Ikhlas Campakamulya, saya meyakini bahwa pendidikan karakter
terbaik tidak hanya berlangsung di ruang kelas. Pendidikan sejati dimulai dari
rumah, ketika ayah dan ibu berjalan beriringan mendampingi anak-anak mereka.
Guru PAUD hanyalah mitra yang memperkuat fondasi yang telah dibangun dalam
keluarga.
Makna HARGANAS 2026 bagi Pendidikan Anak Usia Dini
HARGANAS bukan sekadar seremoni
tahunan, melainkan momentum untuk mengingatkan seluruh keluarga Indonesia bahwa
rumah adalah sekolah pertama, dan orang tua adalah guru pertama bagi
anak-anaknya. Tema "Ayah Wajib Hadir" menjadi pesan yang
sangat relevan, terutama pada masa emas perkembangan anak usia dini.
Pada usia 0–6 tahun, perkembangan
otak berlangsung sangat pesat. Nilai-nilai kehidupan, rasa aman, kepercayaan
diri, kemampuan bersosialisasi, hingga pembentukan karakter mulai tertanam pada
masa ini. Karena itu, kehadiran ayah memiliki dampak yang jauh lebih besar
daripada yang sering disadari.
Ayah yang meluangkan waktu untuk
mendengarkan cerita anak, menemani belajar, bermain bersama, mengantar ke
sekolah, atau sekadar memeluk anak sebelum tidur sedang membangun pondasi
emosional yang akan dikenang sepanjang hidup. Anak belajar tentang kasih
sayang, tanggung jawab, disiplin, keberanian, dan penghargaan terhadap sesama
melalui keteladanan tersebut.
Mengapa Ayah Wajib Hadir?
Banyak penelitian menunjukkan bahwa
keterlibatan ayah berkontribusi terhadap perkembangan sosial, emosional,
akademik, bahkan kesehatan mental anak. Namun bagi kami di PAUD, bukti paling
nyata terlihat setiap hari di ruang kelas.
Anak-anak yang mendapatkan perhatian
dari ayah cenderung datang ke sekolah dengan wajah ceria, lebih percaya diri
ketika mencoba hal baru, berani menyampaikan pendapat, serta lebih mudah
membangun hubungan positif dengan teman-temannya. Mereka merasa dicintai,
dihargai, dan memiliki tempat yang aman untuk kembali.
Sebaliknya, anak yang jarang
merasakan kehadiran ayah sering kali membutuhkan dukungan emosional lebih
besar. Mereka mungkin menjadi pendiam, mudah marah, kurang percaya diri, atau
mencari perhatian dengan berbagai cara. Tentu setiap anak memiliki kondisi yang
berbeda, tetapi kehadiran ayah yang hangat dan konsisten dapat menjadi salah
satu faktor penting dalam membantu tumbuh kembang mereka.
Menjadi ayah bukan hanya tentang
memberi kehidupan, melainkan juga tentang menghadirkan kehidupan yang penuh
makna bagi anak.
Guru PAUD: Jembatan antara Sekolah dan Keluarga
Guru PAUD tidak mungkin menggantikan
peran ayah, tetapi guru dapat menjadi jembatan yang menghubungkan keluarga
dengan proses pendidikan di sekolah.
Di TK Karakter Al Ikhlas
Campakamulya, kami terus berupaya membangun budaya kolaborasi. Kami mengajak
orang tua, terutama para ayah, untuk tidak hanya hadir saat pembagian rapor
atau acara wisuda, tetapi juga terlibat dalam berbagai kegiatan sekolah.
Kehadiran mereka memberikan pesan kuat kepada anak bahwa pendidikan adalah
tanggung jawab bersama.
Guru memiliki peran strategis dalam
membuka ruang komunikasi yang hangat dengan keluarga. Melalui pertemuan
parenting, diskusi perkembangan anak, kegiatan bersama keluarga, maupun
komunikasi harian, guru dapat mengajak para ayah memahami bahwa keberhasilan
pendidikan bukan hanya diukur dari kemampuan membaca atau berhitung, tetapi
juga dari terbentuknya karakter yang baik.
"Guru menanam benih ilmu,
tetapi keluarga menyiraminya setiap hari."
Praktik Baik di TK Karakter Al Ikhlas Campakamulya
Kami percaya bahwa pendidikan
karakter harus melibatkan seluruh unsur keluarga. Karena itu, berbagai kegiatan
dirancang agar ayah memiliki kesempatan untuk hadir dan berinteraksi langsung
dengan anak.
Misalnya, saat kegiatan bermain
bersama keluarga, ayah diajak mendampingi anak menyelesaikan permainan
sederhana yang membutuhkan kerja sama. Dalam kegiatan membaca cerita, beberapa
ayah bergantian membacakan kisah inspiratif di depan kelas. Pada momen
tertentu, ayah juga dilibatkan dalam kegiatan berkebun, olahraga bersama,
maupun proyek sederhana yang mempererat hubungan emosional dengan anak.
Hasilnya sangat menggembirakan.
Anak-anak menunjukkan semangat belajar yang lebih tinggi ketika melihat ayah
mereka hadir di sekolah. Mereka merasa bangga, lebih percaya diri, dan lebih
termotivasi mengikuti kegiatan pembelajaran.
Bagi guru, momen tersebut juga
menjadi pengingat bahwa keberhasilan pendidikan tidak dibangun oleh sekolah
sendirian. Ketika keluarga dan sekolah berjalan seiring, proses pembentukan
karakter menjadi jauh lebih kuat.
Tantangan Keterlibatan Ayah di Era Modern
Kita tidak dapat menutup mata bahwa
banyak ayah menghadapi tuntutan pekerjaan yang berat. Waktu bersama keluarga
sering kali tersita oleh kesibukan mencari nafkah. Di sisi lain, perkembangan
teknologi juga menghadirkan tantangan baru. Tidak sedikit keluarga yang berada
dalam satu rumah, tetapi masing-masing sibuk dengan gawai.
Namun, hadir tidak selalu berarti
memiliki banyak waktu. Hadir berarti memberikan perhatian yang berkualitas.
Sepuluh menit berbicara dari hati ke
hati sebelum tidur dapat lebih bermakna daripada berjam-jam berada di rumah
tanpa interaksi. Mendengarkan cerita anak sepulang sekolah, memuji usahanya,
atau bermain bersama tanpa gangguan telepon genggam merupakan bentuk kehadiran
yang sangat berharga.
Sekolah pun perlu terus berinovasi
agar para ayah merasa diterima dan memiliki ruang untuk berpartisipasi. Program
parenting yang fleksibel, komunikasi yang positif, serta kegiatan yang ramah
keluarga menjadi langkah nyata untuk meningkatkan keterlibatan mereka.
Ajakan bagi Guru PAUD dan Orang Tua
Sebagai guru PAUD, marilah kita
terus menjadi penyemangat bagi setiap keluarga. Jangan pernah lelah mengajak
para ayah untuk terlibat dalam pendidikan anak. Lakukan dengan pendekatan yang
menghargai, bukan menghakimi.
Mari kita bangun sekolah yang ramah
keluarga, tempat setiap ayah merasa diterima, dihargai, dan memiliki kesempatan
untuk tumbuh bersama anak-anaknya.
Kepada para ayah Indonesia,
anak-anak tidak menuntut hadiah yang mahal. Mereka lebih merindukan pelukan,
senyuman, cerita sebelum tidur, doa yang dipanjatkan bersama, dan kehadiran
ayah dalam setiap langkah kecil kehidupan mereka.
Anak-anak tidak membutuhkan ayah
yang sempurna. Mereka membutuhkan ayah yang benar-benar hadir.
Sebagai Kepala Sekolah TK Karakter
Al Ikhlas Campakamulya, saya percaya bahwa setiap guru PAUD sedang mengukir
sejarah bangsa melalui sentuhan kasih sayang dan pendidikan karakter yang
diberikan setiap hari. Pekerjaan ini mungkin tidak selalu terlihat megah,
tetapi dampaknya akan dirasakan oleh generasi mendatang.
Mari kita jadikan HARGANAS 2026
sebagai momentum untuk memperkuat kolaborasi antara sekolah dan keluarga.
Sebab, di balik setiap anak hebat, selalu ada guru yang tulus dan ayah yang
memilih untuk hadir.
"Ketika ayah hadir dengan
cinta, ibu mendidik dengan kelembutan, dan guru membimbing dengan keikhlasan,
maka lahirlah generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berkarakter. Dari
keluarga yang kuat, tumbuh Indonesia yang hebat."
