CIANJUR – Ada yang berbeda dari riuhnya Aula SPS Dahlia Ciherang, Kecamatan Karangtengah, Rabu (1/7/2026) lalu. Ruangan itu tidak sekadar menjadi tempat berkumpul, melainkan sebuah episentrum gagasan besar. Sebanyak 65 guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dari berbagai pelosok kecamatan di Kabupaten Cianjur duduk bersama, menyatukan frekuensi demi satu tujuan mulia: membedah cetak biru masa depan generasi emas Indonesia melalui Sosialisasi Pendidikan Holistik Berbasis Karakter (PHBK) Tahun 2026.
Kehadiran para pendidik ini mencerminkan keragaman lini garda terdepan pendidikan anak usai dini. Mulai dari Taman Kanak-Kanak (TK), Satuan PAUD Sejenis (SPS), Kelompok Bermain (Kober), Pendidikan Anak Usia Dini Al-Qur'an (PAUDQu), hingga Raudhatul Athfal (RA) ada sekitar 23 lembaga yang berpartisipasi. Di tengah perbedaan payung institusi, mereka membawa keresahan yang sama: bagaimana melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara kognitif, tetapi juga kokoh secara moral.
Menanam Sebelum Terlambat
Menjadi pembuka dalam urun rembug tersebut, Aulia Sukendar, Kepala Sekolah TKIT Maharani Putri sekaligus Sekolah Koordinator pada Program PPA 6, memaparkan landasan filosofis yang krusial. Dengan penyampaian yang lugas namun mendalam, Aulia menekankan bahwa pendidikan karakter bukanlah menu tambahan dalam kurikulum, melainkan "hidangan utama" yang harus disajikan sejak dini.
"Usia dini adalah masa keemasan (golden age) di mana otak anak layaknya spons yang menyerap apa saja di sekitarnya tanpa filter. Jika kita terlambat menanamkan karakter mulia di fase ini, kita seperti membangun rumah megah di atas tanah yang labil," ujar Aulia di hadapan para peserta yang menyimak dengan takzim.
Menurutnya, tantangan zaman digital hari ini menuntut para pendidik PAUD untuk bertransformasi. Guru tidak lagi sekadar mengajarkan membaca, menulis, dan berhitung (calistung), melainkan menjadi arsitek jiwa yang menanamkan integritas, empati, dan ketangguhan mental.
Emosi Positif dan 9 Pilar Karakter
Melanjutkan estafet pemikiran, panggung sosialisasi kemudian diisi oleh Erni Hary Susanti. Sosok yang dikenal luas sebagai Duta PHBK dan Parenting Indonesia Heritage Foundation (IHF), sekaligus Ketua Komunitas GTK IGSBB Kabupaten Cianjur ini membawa materi yang lebih taktis dan menyentuh ranah psikologis: Emosi Positif dan 9 Pilar Karakter.
Erni, yang sehari-hari juga mengajar di TKIT Maharani Putri, mengupas tuntas bagaimana atmosfer emosi di dalam kelas dan rumah sangat menentukan keberhasilan transfer nilai karakter. "Anak-anak tidak mendengar apa yang kita katakan, mereka meniru apa yang kita lakukan dan rasakan. Oleh karena itu, menciptakan lingkungan dengan emosi positif adalah syarat mutlak sebelum kita bicara tentang pilar karakter," tegas Erni.
Dalam paparannya, 9 Pilar Karakter yang digagas oleh IHF dibedah secara interaktif. Mulai dari cinta Tuhan dan segenap ciptaan-Nya, kemandirian dan tanggung jawab, kejujuran, hormat dan santun, hingga kedamaian dan kesatuan. Materi ini seolah menjadi oase bagi para guru yang kerap menghadapi tantangan perilaku anak di lapangan.
Gerbang Menuju Sekolah Mitra
Lebih dari sekadar seminar satu arah, kegiatan ini sejatinya merupakan jembatan emas bagi sekolah-sekolah di Cianjur untuk naik kelas. Sosialisasi ini dirancang untuk mengenalkan konsep PHBK secara komprehensif kepada sekolah yang berminat mengadopsi sistem pendidikan holistik yang diusung oleh Indonesia Heritage Foundation (IHF).
Kolaborasi apik antara IHF dengan para sekolah koordinator di berbagai kota—termasuk di Cianjur melalui TKIT Maharani Putri—membuka peluang besar bagi lembaga PAUD setempat. Sekolah-sekolah yang hadir dan menunjukkan komitmen pasca-sosialisasi ini nantinya akan disaring untuk menjadi Sekolah Mitra.
Keuntungannya tidak main-main. Sekolah mitra yang terpilih akan dilibatkan langsung dalam program pelatihan PHBK resmi yang intensif. Namun, para peserta tampaknya harus sedikit bersabar untuk mengakhiri rasa penasaran mereka.
"Saat ini, kami bergerak di lini sosialisasi terlebih dahulu untuk menyamakan persepsi dan menjaring minat. Untuk waktu pelaksanaan Program Pelatihan PHBK atau PPA secara definitif, kami masih menunggu keputusan resmi dari pihak pusat Indonesia Heritage Foundation," jelas panitia di sela-sela acara.
Kehangatan di Penghujung Acara
Sesi formal boleh saja berakhir, namun gairah diskusi justru semakin hangat saat jarum jam bergeser ke agenda tanya jawab. Berbagai pertanyaan taktis bermunculan dari para guru, mulai dari cara menghadapi anak yang tantrum hingga strategi mengedukasi orang tua murid agar selaras dengan program sekolah.
Acara ditutup dengan sesi ramah tamah yang cair. Ruangan Aula SPS Dahlia Ciherang riuh oleh tawa dan jabat tangan erat. Momen ini dimanfaatkan dengan baik oleh para peserta lintas kecamatan untuk saling berkenalan, bertukar nomor kontak, dan membangun jejaring komunikasi.
Pertemuan hari itu mungkin telah usai, namun langkah nyata 65 guru PAUD Kabupaten Cianjur baru saja dimulai. Di tangan merekalah, cetak biru karakter anak-anak Cianjur sedang dipertaruhkan.
