SUKANAGARA, CIANJUR — Pagi itu, Senin, 6 Juli 2026, kabut tipis khas kawasan Cianjur Selatan masih menyelimuti Kecamatan Sukanagara. Namun, di dalam Aula TK Azzahra, kehangatan yang luar biasa justru sedang membuncah. Sebanyak 40 orang pendidik anak usia dini berkumpul dengan satu tekad yang sama: membawa pulang sebuah lentera baru untuk masa depan anak-anak didik mereka.
Hari itu menjadi saksi bisu dilaksanakannya Sosialisasi Pendidikan Holistik Berbasis Karakter (PHBK). Sebuah momentum yang bukan sekadar seremonial, melainkan sebuah gerakan akar rumput yang lahir dari kesadaran mendalam akan pentingnya membenahi fondasi generasi bangsa. Peserta yang hadir merupakan representasi dari pejuang anak usia dini—guru-guru dari Taman Kanak-Kanak (TK), Raudhatul Athfal (RA), dan Taman Pendidikan Al-Qur'an (TPQ)—yang berasal dari dua kecamatan, yakni Sukanagara dan Campakamulya.
Acara yang berlangsung khidmat ini diinisiasi oleh Ikatan Guru Semai Benih Bangsa (IGSBB) Cianjur, sebuah komunitas yang selama ini konsisten bergerak di jalur pendidikan karakter. Guna membumikan konsep ini di wilayah selatan, IGSBB Cianjur menggandeng Sekolah Koordinator TK PGRI 4 An Nurhidayah Sukanagara sebagai mitra strategis lokal. Sinergi ini membuktikan bahwa jarak geografis bukanlah penghalang ketika hati para pendidik sudah terpanggil untuk sebuah perubahan yang subtansial.
Testimoni Nyata: Manfaat yang Mengubah Paradigma
Suasana aula semakin hangat saat Kepala Sekolah TK PGRI 4 An Nurhidayah, Eka Ulfah Hanifah, S.Pd.I, memberikan sambutannya. Dengan suara yang bergetar penuh rasa syukur dan optimisme, Eka membagikan pengalaman nyata lembaganya setelah mengadopsi sistem PHBK, sebuah model pendidikan yang dikembangkan oleh Indonesia Heritage Foundation (IHF).
"Pendidikan Holistik Berbasis Karakter ini bukan sekadar teori di atas kertas. Kami di TK PGRI 4 An Nurhidayah telah merasakan langsung bagaimana pendekatan ini mengubah atmosfer belajar menjadi lebih memanusiakan anak," ujar Eka di hadapan puluhan sejawatnya.
Eka menambahkan, dampak positif yang dirasakan sekolahnya tidak hanya menyentuh aspek kognitif anak, melainkan juga emosional dan spiritual. Hal inilah yang memicu gelombang ketertarikan dari sekolah-sekolah lain di sekitarnya. "Hari demi hari, semakin banyak sekolah yang mengekspresikan ketertarikan mereka untuk ikut serta dalam Pelatihan PHBK ini. Ada kerinduan yang sama di antara kita semua untuk kembali pada hakikat pendidikan yang memerdekakan dan membentuk moralitas dasar anak," tegasnya, disambut anggukan setuju dari para peserta.
Menanam Nalar Kritis Sejak Dini
Pemateri pertama, Aulia Sukendar, membuka cakrawala berpikir para peserta lewat paparan yang visioner namun tetap membumi. Aulia menyoroti tantangan zaman yang akan dihadapi oleh anak-anak generasi alpha dan beta di masa depan. Menurutnya, menghafal teks tidak lagi cukup di era di mana kecerdasan buatan berkembang pesat.
Aulia memaparkan dengan gamblang urgensi penanaman pendidikan karakter sejak usia dini sebagai jangkar kehidupan. Namun, karakter saja tidak berdiri sendiri. Di era modern, karakter harus bersanding dengan kemampuan berpikir tingkat tinggi.
"Kita sedang menyiapkan generasi yang akan memimpin bangsa ini beberapa dekade ke depan. Tugas kita di jenjang PAUD, TK, RA, dan TPQ adalah membentuk anak-anak yang tidak hanya berkarakter mulia, tetapi juga bernalar kritis dan memiliki kemampuan berpikir Higher Order Thinking Skills (HOTs)," papar Aulia. Beliau menekankan bahwa merangsang HOTs pada anak usia dini bisa dimulai dari hal sederhana, seperti memantik rasa ingin tahu mereka melalui pertanyaan-pertanyaan terbuka, bukan sekadar mendikte ingatan anak.
Emosi Positif: Kunci Utama Mendidik dengan Hati
Jika Aulia Sukendar menekankan pada aspek nalar dan fondasi karakter, maka pemateri kedua, Erni Hary Susanti, S.Pd, menyentuh sisi emosional yang menjadi ruh dari dunia anak-anak. Erni, yang juga menjabat sebagai Ketua Komunitas GTK IGSBB Cianjur, membawakan materi dengan pendekatan yang sangat menyentuh hati para guru.
Bagi Erni, seorang guru tidak akan pernah bisa mentransfer nilai-nilai kebaikan jika suasana batin sang anak dalam kondisi tertekan. Di sinilah pentingnya penciptaan emosi positif di dalam ruang-ruang kelas kita.
"Anak-anak adalah peniru yang ulung, namun mereka juga perasa yang sangat peka. Sebelum kita menanamkan karakter jujur, mandiri, atau cerdas, pastikan mereka merasa aman dan dicintai terlebih dahulu di sekolah," urai Erni dengan senyum hangat khas seorang pendidik senior.
Erni mengingatkan bahwa guru yang bahagia akan melahirkan murid yang bahagia. Emosi positif yang dihadirkan oleh guru saat mendidik anak usia dini akan menjadi katalisator utama yang mempercepat penyerapan nilai-nilai PHBK ke dalam jiwa anak. Paparan Erni seolah menjadi cermin bagi para peserta, mengingatkan kembali mengapa mereka memilih jalan sunyi sebagai seorang guru anak usia dini.
Antusiasme Tanpa Jeda dan Harapan Baru
Sepanjang acara, aura antusiasme begitu pekat terasa di dalam Aula TK Azzahra. Tidak ada peserta yang beranjak. Lembar demi lembar catatan dipenuhi oleh poin-poin penting. Tatapan mata para guru dari Sukanagara dan Campakamulya ini memancarkan binar kerinduan akan ilmu baru yang segar dan aplikatif.
Sesi terakhir sosialisasi ini ditutup dengan diskusi kelompok, tanya jawab yang interaktif, serta ramah tamah. Pada sesi tanya jawab, suasana cair mengalir begitu saja. Para guru memanfaatkan momen ini untuk mencurahkan tantangan yang mereka hadapi di lapangan, yang kemudian dijawab dengan solusi-solusi taktis berbasis prinsip PHBK oleh kedua pemateri.
Saat matahari mulai bergeser ke arah barat dan acara resmi ditutup, ada kesan mendalam yang tertinggal di ruang aula tersebut. Pertemuan hari itu bukan sekadar akhir dari sebuah sosialisasi, melainkan awal dari sebuah estafet perjuangan. Tiga puluh guru yang hadir hari itu pulang membawa blueprint baru—sebuah komitmen untuk mengubah ruang kelas mereka menjadi tempat persemaian benih-benih unggul bangsa yang berkarakter, cerdas, dan penuh cinta. Dari Sukanagara, sebuah riak kecil perubahan untuk pendidikan Indonesia baru saja dimulai. (Aus)



