Oleh : Iis Safuroh, M.Pd.I*
Ada anak kelas 3 SD yang awalnya tidak suka menulis. Alasannya klasik, "Malas Bu, capek". Tiga bulan kemudian, tulisannya justru masuk ke dalam satu buku antologi bersama 20 teman lainnya. Apa yang berubah? Kami hanya membalik urutannya. Membaca 8 kali, menuliskannya 1 kali.
Sebagai mentor menulis buku di SD Islam Terpadu I Hartaco Makassar, saya menyaksikan sendiri bagaimana prinsip sederhana "Menulis = 8x Membaca" bisa menyalakan minat literasi anak usia 7-9 tahun.
Spektrum 4-9 Tahun Butuh Cara yang Berbeda
Anak usia dini hingga SD awal ada di satu spektrum literasi, tapi tidak bisa disamakan caranya. Anak TK B usia 5 tahun belajar huruf terbaik lewat pasir, lagu, dan tepuk tangan. Sementara anak kelas 3 usia 9 tahun sudah bisa menyusun cerita 3 paragraf.
Inilah yang saya sebut metodik khusus. Kesalahan terbesar adalah memaksa anak TK duduk diam mengisi LKS seperti anak SD. Hasilnya? Anak trauma duluan sebelum bisa membaca. Kuncinya satu: buat huruf jadi teman main, bukan musuh di papan tulis.
Panca Cinta, Kompas agar Literasi Tidak Kosong
Di Hartaco kami memakai Kurikulum Berbasis Panca Cinta sebagai jiwa dari setiap kegiatan menulis. Ada 5 cinta: Cinta Tuhan, Cinta Diri, Cinta Keluarga, Cinta Sesama, dan Cinta Alam serta Bangsa.
Saat anak diminta menulis tentang "Air", kami tidak berhenti di ejaan A-I-R. Anak TK belajar bersyukur karena air minum adalah titipan Tuhan. Anak kelas 3 menulis esai "Mengapa Harus Hemat Air" untuk lomba sekolah. Literasi jadi punya arah. Anak tidak hanya melek huruf, tapi juga melek hati. Tanpa nilai, anak bisa jadi pandai membaca, tapi malas peduli.
Bukti dari Kelas, Kartu Jejak Kata dan Para Penulis Cilik
Lalu bagaimana membuktikan bahwa menulis memang lebih kuat dari membaca? Kami memakai alat sederhana. Kartu Jejak Kata. Aturannya mudah. Anak membaca 8 kartu bergambar, lalu menulis 1 kalimat dari kartu pilihannya.
Pengalaman ini kami bawa saat mendampingi 21 penulis cilik SD I Hartaco menerbitkan buku antologi cerpen. Awalnya mereka takut. "Saya tidak bisa nulis, Bu". Kami mulai dari 8 kartu tentang "Keluargaku". Setelah membaca 8 kartu, mereka hanya diminta menulis 1 kalimat tentang Ibu atau Ayah atau pengalaman indahnya yang dekat dengan kegiatan sehari-hari mereka Dari 1 kalimat itu, lahirlah 1 paragraf. Dari 1 paragraf, lahirlah 1 cerita utuh.
Tiga bulan kemudian, 21 anak itu memegang karyanya sendiri. Mereka belajar menulis secara online. Tentu dukungan orang tua pada spektrum anak usia SD menjadi peranan penting juga. Saat itu saya paham, anak tidak perlu disuruh menulis 10 halaman. Anak hanya harus dimotivasi merasakan bahwa 1 tulisan tangannya lebih kuat setara dengan mereka membaca dan menghafal sebagai landasan teori menulis.
Semangat anak-anak Hartaco Indah dari Makassar menunjukkan harapan. Tantangan literasi bukan pada kurangnya buku, tapi pada cara kita mengantar anak ke buku itu.
Dengan metodik yang ramah anak, nilai Panca Cinta sebagai kompas, dan bukti nyata dari para penulis cilik, kita bisa. Karena sebuah bangsa besar lahir dari anak-anak yang berani menuliskan ceritanya sendiri.
Cianjur, 7 Juli 2026
*Penulis sudah menerbitkan 17 buku solo dan 45 antologi. Mentor Menulis Buku Anak dan Praktisi RA dan PAUD di Cianjur. Pernah mendampingi MTs Tanwiriyyah membuat karya buku antologi dan SD I Hartaco Indah Makassar menerbitkan buku antologi cerpen karya siswa.
*Juara 1 Karya Tulis Nyata Kab.Cianjur Meraih PGM Indonesia Award Cianjur 2025.
