Iklan

terkini

KURIKULUM SUDAH SIAP?

05 Juli 2026, 07.56.00 WIB Last Updated 2026-07-05T00:56:32Z


Oleh : Muhamad Ali Sodikin

Pegiat Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM)


Kita tahu setiap menjelang tahun ajaran baru, ada pemandangan yg selalu berulang. 


Ruang guru mendadak lebih ramai. Kalender penuh coretan. Grup WhatsApp sekolah sibuk sejak pagi. Jadwal rapat bertambah. Ada In House Training. Ada penyusunan kurikulum. Ada perangkat pembelajaran yg harus selesai sebelumtanggal ini.


Template dibagikan.

Guru2 mulai mengetik.


Sebagian menyusun dari awal dengan penuh kesungguhan. Sebagian lagi membuka folder tahun lalu, mengganti identitas, memperbarui tanggal, lalu menyesuaikan beberapa bagian. Bahkan ada juga yg menutuskan beli paket perangkat pembelajaran terbaru. Bukan karena mereka tidak peduli. Kadang memang waktunya terlalu sempit, sementara pekerjaan datang bersamaan.


Di depan ruangan, narasumber 'membacakan' materi pendekatan kurikulum terbaru, satu demi satu bagian format. Indikator. Tujuan. Asesmen. Lampiran. Slide demi slide berganti. Sesekali layar laptop dipenuhi dokumen, sesekali berpindah ke PowerPoint. Hari terasa panjang.


Lalu semua selesai.


Dokumen dicetak, dijilid rapi, atau disimpan dalam folder digital. Diperiksa. Direvisi sedikit. Divalidasi. Disahkan.


Sekolah pun dinyatakan siap menyambut tahun ajaran baru.


Setidaknya, di atas kertas.


Namun ada satu pertanyaan yang jarang ikut masuk ke agenda rapat.


Kalau semua sudah dirancang dengan begitu rinci, mengapa masih banyak anak yg merasa sekolah bukan tempat yg ingin mereka datangi setiap pagi?


Mengapa ada murid yg lebih sering menghitung jam pulang daripada menikmati jam pelajaran?


Mengapa ada yg duduk diam sepanjang kelas, tetapi pikirannya entah ke mana?


Mungkin karena selama ini kita terlalu sibuk merancang apa yg akan diajarkan, tetapi belum cukup lama berhenti untuk memikirkan bagaimana rasanya menjadi anak yg akan menerima semua itu.


Kita sering menganggap belajar hanyalah proses akademik.


Padahal sebelum ada pelajaran, ada perasaan.

Sebelum ada materi, ada kondisi tubuh.

Sebelum ada kemampuan berpikir, ada rasa aman.


Seorang anak yang baru saja dimarahi di depan kelas,dibentak tanpa tahu kesalahannya, dibandingkan dengan temannya, atau dipermalukan karena nilainya, sebenarnya sedang mengalami sesuatu yg jauh lebih dalam daripada sekadar "tidak semangat belajar."


Tubuhnya sedang membaca situasi sebagai ancaman.


Jadi ingat apanyang disampaikan Bu Novi (co founder gsm), dalam kondisi seperti itu, bagian otak yg disebut amigdala menjadi lebih aktif. Sistem saraf mengaktifkan respons bertahan hidup. Tubuh melepaskan hormon stres seperti kortisol dan adrenalin. Dampaknya bukan hanya perasaan tidak nyaman. Konsentrasi menurun. Kemampuan mengingat melemah. Kreativitas ikut turun. Energi mental habis hanya untuk merasa aman kembali.


Ini bukan sekadar opini. Penelitian dlm bidang neurosains pendidikan menunjukkan bahwa stres yg berkepanjangan mengganggu kerja korteks prefrontal, bagian otak yg berperan dalam perhatian, pengambilan keputusan, pengendalian diri, dan proses belajar. Sementara itu, aktivasi amigdala yg tinggi membuat otak lebih siap untuk bertahan daripada memahami pelajaran (Sousa, 2022; Immordino-Yang, 2016).


Artinya sederhana.


Otak yang merasa terancam memang tidak dirancang untuk belajar.


Maka mungkin sudah waktunya kita mengubah urutan berpikir.

Bukan lagi dimulai dari, "Perangkat pembelajarannya sudah lengkap belum?"

Tetapi bertanya lebih dulu, "Apakah ruang kelas kita nanti cukup aman untuk membuat anak berani bertanya?"

"Apakah guru-gurunya nanti lebih sering didengar daripada ditakuti?"

"Apakah sekolah ini cukup hangat untuk membuat seorang murid merasa dirinya diterima, bahkan ketika ia belum sempurna?"


Karena kurikulum yg baik memang penting.


Perencanaan yg matang juga tidak boleh diabaikan.


Tetapi semua itu hanyalah struktur.


Dan setiap struktur selalu membutuhkan pondasi.


Pondasi pendidikan bukan sekadar visi, misi, atau dokumen yang tersimpan di lemari kepala sekolah.


Pondasinya adalah rasa aman, rasa nyaman.


Rasa bahwa sekolah adalah tempat di mana seorang anak boleh salah tanpa kehilangan harga dirinya.


Terinspirasi tema ngkaji pendidikan lalu, See the Unseen mengingatkan kita bahwa yg paling menentukan masa depan sekolah sering kali justru bukan hal2 yg tampak di atas meja rapat.


Yang tidak terlihat itulah yang sering menentukan segalanya.


Ekspresi murid yang tiba2 diam.

Guru yg memilih mendengar sebelum menghakimi.

Sapaan sederhana di depan gerbang.

Nada bicara yg tidak meninggikan suara.

Perasaan diterima.


Hal-hal kecil itu memang tidak pernah masuk lampiran kurikulum.


Tetapi justru di situlah proses belajar benar2 dimulai.


Barangkali tahun ini kita tidak perlu hanya bertanya, "Apakah kurikulum kita sudah siap?"


Lebih penting lagi adalah bertanya, "Apakah hati sekolah kita sudah siap menerima anak2 yg akan datang?"


Karena pada akhirnya, sekolah tidak dikenang karena tebalnya dokumen yg dimiliki.


Sekolah dikenang karena bagaimana ia membuat seseorang merasa ketika berada di dalamnya.


Seperti yang ditulis oleh Maya Angelou  "People will forget what you said, people will forget what you did, but people will never forget how you made them feel."


Mungkin itulah kalimat yg layak ditempel di halaman pertama setiap dokumen kurikulum.


Sebab sebelum anak mampu mengingat isi pelajaran, mereka lebih dahulu mengingat bagaimana sekolah memperlakukan mereka.


#kembalimendidikmanusia

#seetheunseen

#perjalanangurumeraki

#gerakansekolahmennyenangk

Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • KURIKULUM SUDAH SIAP?

Terkini

Iklan