Iklan

terkini

Cahaya yang Tak Pernah Padam

18 Juni 2026, 19.28.00 WIB Last Updated 2026-06-18T12:28:41Z

 



Oleh : Aulia Sukendar


Malam itu biasa saja. Tak ada hujan, tak ada angin kencang. Lampu rumah menyala terang seperti biasanya. Pak Harun, duduk di meja kerjanya yang sempit, jari-jarinya lincah mengetik proposal untuk bantuan revitalisasi gedung sekolah yang harus dikirim besok pagi. Deadline mendesak, kalau tidak diserahkan besok bantuan tidak akan di ACC.


Tiba-tiba, semuanya gelap gulita.


Listrik mati tanpa aba-aba. Tak ada pemberitahuan dari PLN. Kipas berhenti berputar. Layar laptop memudar pelan, baterai tersisa 8%. HP di sampingnya sudah lowbatt sejak sore. WiFi mati. Pompa air berhenti, keran di dapur tak mengeluarkan setetes air pun.


“Ya ampun…” gumam Pak Harun. Suaranya serak karena kaget. Ia menekan tombol power laptop berkali-kali, seolah bisa menghidupkannya kembali dengan keinginan saja.


Dari dapur terdengar langkah pelan. “Ayah? Kok tiba-tiba gelap begini?” panggil Ibu Siti, istrinya yang sudah 28 tahun mendampinginya.


Pak Harun menghela napas berat. “Ibu… listrik mati mendadak. Nggak ada angin, nggak ada hujan, nggak ada kabar dari PLN. WiFi mati, pompa air mati, laptop hampir habis. Kerjaan besok  belum selesai. Gimana ini, Bu?”


Ibu Siti mendekat dengan pelita kecil yang selalu disimpan di laci dapur. Cahaya kuning temaram menerangi wajahnya yang tenang. Ia meletakkan pelita di meja kerja suaminya, lalu duduk di kursi sebelah. “Sabarlah dulu, Ayah. Mungkin ada gangguan sebentar.”


Pak Harun menyandarkan punggungnya, rasa panik mulai merayap. Tanpa listrik, ia tak bisa menyelesaikan proposal, tak bisa kirim email, tak bisa mencari data tambahan. Besok pagi tak ada air untuk mandi. Semuanya terhenti seketika. “Tiap kali mati lampu seperti ini, rasanya dunia ikut berhenti, Bu,” keluhnya. Suaranya bergetar. “Aku hanya operator biasa. Kalau telat, Pa KS bisa marah Bu.


Ibu Siti tersenyum kecil, meraih tangan suaminya yang kasar. “Ingat dulu waktu kita baru menikah, Ayah? Listrik sering mati mendadak seperti sekarang. Kamu masih kerja serabutan, aku jualan gorengan. Kita pakai lilin, ngobrol sampai pagi sambil ketawa-ketawa. Ayah pernah bilang, ‘Asal ada Ibu, dunia gelap pun tetap terasa terang.’”


Pak Harun tertawa pelan, suara itu terdengar hangat di tengah kegelapan. “Waktu itu kita masih muda, Bu. Sekarang… aku sudah tua. Takut nggak bisa kasih yang terbaik buat Ibu dan anak-anak.”


Ibu Siti menggeleng pelan sambil mengusap punggung tangan suaminya. “Kita berdua sama-sama berjuang, Ayah. Listrik bisa mati kapan saja, laptop lowbatt, pompa air berhenti… tapi kita masih punya satu sama lain.”


Mereka berdua pindah ke ruang tengah, duduk berdampingan di sofa usang di bawah cahaya pelita yang goyah. Pak Harun merasakan kehangatan tangan istrinya yang masih setia menggenggamnya. Tak ada suara hujan, hanya keheningan malam yang sesekali diselingi suara jangkrik.


“Ayah sering lupa, Bu… sibuk kejar deadline, kejar uang, sampai lupa nikmati yang ada di depan mata,” katanya pelan, suaranya penuh penyesalan.


Ibu Siti tersenyum, kepalanya bersandar lembut di bahu suaminya. “Sekarang Ayah ingat lagi kan? Itu yang penting.”


Malam itu mereka tidak membahas pekerjaan. Mereka bercerita tentang masa-masa sulit dulu, tertawa mengingat kejadian konyol saat listrik mati mendadak — seperti saat Pak Harun salah ambil gula untuk kopi karena gelap, atau saat mereka bermain tebak-tebakan hanya dengan cahaya lilin.


Lewat tengah malam, listrik tiba-tiba menyala kembali. Lampu rumah terang benderang, kipas berputar, pompa air kembali bekerja.


Tapi Pak Harun tidak langsung bergegas ke meja kerjanya. Ia memeluk istrinya erat di tengah ruangan. “Besok pagi Ayah kerjain proposalnya, Bu. Malam ini, Ayah mau menikmati dulu cahaya yang sebenarnya.”


Keesokan paginya, proposal selesai tepat waktu. Sejak hari itu, Pak Harun mengubah kebiasaannya. Ia menyisihkan waktu setiap malam untuk duduk bersama Ibu Siti, tanpa gadget, tanpa distraksi. Ia belajar bahwa meski teknologi dan listrik bisa padam sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan, ada satu cahaya yang tak pernah padam — cahaya cinta, syukur, dan kebersamaan di antara mereka berdua.

Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Cahaya yang Tak Pernah Padam

Terkini

Iklan