Oleh : Lia Maelawati
Guru PAUD Rijaalul Ummah Kecamatan Mande
PAUD sering dianggap hanya tempat bermain. Padahal di baliknya ada proses besar yang membentuk masa depan anak.
“Sudah tahu menjadi guru PAUD harus S1, honornya kecil, mengapa masih bertahan?”
Pertanyaan itu sering saya dengar selama lebih dari dua puluh tahun mengabdi sebagai guru PAUD.
Jika guru PAUD harus S1, kami sudah berusaha menempuhnya.
Jika guru PAUD harus mengikuti pelatihan, workshop, seminar, dan diklat berjenjang, kami sudah menjalaninya.
Jika guru PAUD harus memahami kurikulum yang terus berubah, kami sudah menyesuaikan diri.
Jika guru PAUD harus meningkatkan kompetensi dan profesionalisme, kami terus berusaha memenuhinya.
Semua itu kami jalani sebagai bagian dari tanggung jawab kami sebagai pendidik.
Namun di lapangan, tidak jarang kami merasakan kebingungan.
Belum lama ini kami mendengar informasi bahwa anak usia lima hingga enam tahun sudah dapat masuk sekolah dasar, sementara sebelumnya usia tujuh tahun dianggap lebih ideal.
Di sisi lain, ijazah PAUD juga tidak lagi menjadi syarat wajib masuk sekolah dasar.
Hal ini membuat posisi PAUD di mata sebagian masyarakat menjadi semakin dipertanyakan, padahal di sisi lain pemerintah terus mendorong program wajib belajar 13 tahun untuk meningkatkan kualitas pendidikan.
Bahkan di lapangan, tidak sedikit orang tua yang lebih memilih lembaga les atau bimbingan belajar dibandingkan PAUD, dengan harapan anak lebih cepat mampu membaca, menulis, dan berhitung.
Akibatnya, PAUD sering dipahami hanya sebagai tempat bermain, bukan sebagai fondasi pendidikan.
Padahal peran PAUD jauh lebih dalam dari itu.
Di lembaga kami, pendidikan anak usia dini tidak hanya berfokus pada kemampuan akademik, tetapi pada penanaman nilai-nilai karakter sebagai dasar pembentukan kepribadian anak.
Nilai-nilai tersebut kami tanamkan melalui konsep 9 pilar karakter sebagai dasar pembelajaran, yang dibangun melalui pembiasaan sehari-hari dan kegiatan yang sesuai dengan dunia anak.
Anak-anak belajar menjadi pribadi yang mandiri, jujur, disiplin, bertanggung jawab, peduli, percaya diri, serta mampu bersosialisasi dengan baik, bukan melalui paksaan, tetapi melalui proses yang mereka alami setiap hari.
Karena bagi kami, keberhasilan anak bukan hanya ketika mereka cepat bisa membaca atau berhitung.
Tetapi ketika mereka memiliki adab sebelum ilmu.
Anak-anak juga diberi ruang untuk berkembang melalui kegiatan yang melatih imajinasi, keberanian, dan kemampuan bercerita tentang pengalaman sederhana mereka di rumah maupun di sekolah.
Dari proses itu, perlahan rasa percaya diri mereka tumbuh, cara mereka berbicara berkembang, dan keberanian mereka muncul sedikit demi sedikit.
Di balik perjalanan saya sebagai guru PAUD, saya juga sedang menempuh pendidikan S1 sejak tahun 2020 sampai tahun 2026 ini.
Perjalanan ini tidak selalu mudah, ada tantangan dan keterbatasan yang harus dijalani, namun tetap saya lanjutkan dengan dukungan orang-orang terdekat yang selalu mendoakan dan menguatkan.
Dari proses ini saya belajar bahwa pendidikan bukan tentang cepat selesai, tetapi tentang kesungguhan untuk terus melangkah hingga tuntas.
Kami tidak menolak perubahan. Kami tidak menolak tuntutan untuk terus belajar. Semua itu sudah kami lakukan.
Kami hanya berharap pengabdian yang telah kami berikan selama bertahun-tahun mendapat pengakuan yang layak.
Jika guru PAUD dituntut memiliki tanggung jawab dan profesionalisme yang sama, maka sudah sewajarnya guru PAUD juga memperoleh penghargaan dan kesejahteraan yang setara dengan pendidik lainnya.
Karena pada usia emaslah karakter dibentuk, adab ditanamkan, dan masa depan mulai dipersiapkan.
Setiap perjalanan dalam dunia pendidikan memiliki tantangan yang tidak selalu terlihat dari luar. Di balik proses yang sederhana, ada kesabaran dan ketekunan yang terus dijaga setiap hari. Bagi kami, setiap langkah kecil dalam mendidik anak usia dini adalah bagian dari harapan besar untuk masa depan mereka.
Kami percaya bahwa pendidikan adalah proses yang terus berjalan, bukan sekadar hasil yang instan. Karena itu, kami akan terus berusaha menjalankan peran ini sebaik mungkin, meski dalam keterbatasan.
