Iklan

terkini

Guru Harus Mempunyai Imtaq dan Iptek

15 Juni 2026, 06.36.00 WIB Last Updated 2026-06-14T23:36:35Z

 


Oleh : Miftahudin Samkani S.Pd.I

(Guru SDIT Permata Hati Cianjur)

Di Era sekarang yang penuh dengan Digital dan tengah percepatan transformasi digital dan kehadiran kecerdasan buatan  dalam kehidupan sehari-hari dan sistem pendidikan, sering muncul kekhawatiran bahwa peran guru akan menyusut. Padahal, kenyataannya justru sebaliknya: peran guru menjadi lebih penting, lebih mendalam, dan lebih manusiawi.

Terlebih dalam konteks pendidikan berbasis iman (agama) – sesuai agama masing-masing – guru tidak hanya sebagai penyampai pengetahuan, tetapi sebagai teladan iman dan agama, pendamping penuh cinta, dan penunjuk arah moral di gugu dan di tiru

Guru Harus Berubah

Teknologi—termasuk AI—memang mampu menyediakan materi pembelajaran, menjawab pertanyaan, memfasilitasi pembelajaran daring. Namun guru tidak bisa digantikan dalam dua dimensi utama: dimensi relasional-eksistensial dan dimensi nilai-moral/iman. Inilah “sisa” yang tidak dimiliki oleh AI.

Di Indonesia, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa guru di era digital/era Society 5.0 dituntut beralih dari peran tradisional (penyampai materi) menjadi: fasilitator, inovator, pengguna aktif teknologi. Guru juga berperan sebagai pendamping proses pembelajaran yang makin personal, berbasis data, dan adaptif. Selain itu, guru adalah motivator dan penghubung antara teknologi dan kebutuhan kemanusiaan dalam pembelajaran.

Meskipun begitu, riset juga menunjukkan bahwa kompetensi digital dan kesiapan guru untuk memanfaatkan AI masih belum merata. Artinya: pergeseran peran ini bukan otomatis terjadi — ia harus disertai pelatihan, dukungan infrastruktur, dan perubahan paradigma.

Guru sebagai Teladan Iman dan Taqwa juga di tuntut menguasai IPTEK

Dalam konteks pendidikan Indonesia yang berdasarkan pada nilai-nilai Pancasila, maka guru memiliki muti-peran yang khas. Pertama, guru sebagai teladan dalam iman dan agama masing-masing. Guru bukan hanya menyampaikan pelajaran, tetapi hidup dengan nilai-nilai iman/agama, menghidupi nilai cinta kasih sayang, keadilan, kesetaraan dan martabat manusia.

Sebagaimana dikatakan oleh tokoh pendidikan kita yaitu Ki Hajar Dewantara: “Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani” — yang artinya: di depan memberi contoh, di tengah membangkitkan semangat, di belakang memberi dorongan. Guru yang baik di era digital terus memberi contoh sikap, integritas, pelayanan—ini tak bisa digantikan teknologi.

Kedua, guru sebagai pendamping penuh cinta. Cinta dalam pendidikan bukan sentimentalitas saja, tetapi komitmen bahwa setiap murid adalah ciptaan Allah yang diberi potensi dan martabat. Guru mendampingi proses, menghargai keragaman, membangkitkan potensi, memberikan ruang tumbuh. Di era AI, ketika banyak materi bisa diprogram, aspek relasi-manusia memegang posisi sentral.

Ketiga, guru sebagai penunjuk arah etika terhadap teknologi. Penggunaan AI dan teknologi digital dalam pembelajaran membuka banyak kesempatan — tetapi juga risiko: peralihan fokus ke men­ download jawaban, plagiarisme, isolasi sosial, atau kehilangan kemampuan berpikir kritis. Di sinilah guru hadir sebagai kompas etika: membimbing murid agar teknologi digunakan untuk memanusiakan, bukan untuk mendewakan teknologi.

Tantangan dan Peluang

Ada beberapa tantangan yang nyata di lapangan, terutama di negara kita. Pertama, kesenjangan infrastruktur dan kompetensi guru digital — banyak sekolah dan guru belum siap untuk integrasi AI.

Kedua, kultur pembelajaran yang masih berorientasi kepada guru sebagai satu-sumber, bukan pembelajaran kolaboratif, personalisasi, dan berbasis media digital.

Ketiga, potensi teknologi yang belum diimbangi oleh perhatian terhadap nilai-kemanusiaan dan iman: jika guru hanya fokus teknologi tapi lupa membangun relasi, maka yang tumbuh adalah “teknologisasi” pendidikan, bukan “edukasi manusia”.

Namun, di sisi lain, peluang sangat besar. Pertama, AI dan digital bisa membantu guru melakukan diferensiasi pembelajaran, mengenali gaya belajar murid, memberikan feedback lebih cepat—membebaskan guru dari beban administratif ke tugas yang lebih “manusiawi”.

Misalnya Guru dapat menggunakan ChatGPT, Gemini Dola Dan lainya untuk membuat tiga versi materi sekaligus: mudah, sedang, dan lanjutan. Google Classroom dengan analitik AI juga dapat menunjukkan jam belajar murid, preferensi media (video/teks), dan konsistensi pengerjaan tugas. Grammarly atau Microsoft 365 memberi saran perbaikan tata bahasa. AI juga membantu membuat RPP, rubrik penilaian, laporan perkembangan, atau surat kepada orang tua.

Kedua, guru dengan iman dan cinta bisa menjadikan teknologi bukan sebagai kompetitor, tetapi sebagai alat pelayanan untuk memperluas jangkauan, memperkaya pengalaman, memperdalam makna pembelajaran.

Ketiga, pendidikan berbasis iman dan cinta menjadi nilai lebih yang tidak bisa digantikan: dalam dunia yang makin terotomatisasi, aspek relasional, kepekaan sosial, pembentukan karakter akan semakin dibutuhkan dan Guru harus menjadi Model yang berakhlakulkarimah....

 

Komentar
Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE. #JernihBerkomentar
  • Guru Harus Mempunyai Imtaq dan Iptek

Terkini

Iklan