Oleh : Miftahudin Samkani S.Pd.I
(Guru SDIT Permata Hati Cianjur)
Di Era sekarang yang penuh dengan Digital dan tengah
percepatan transformasi digital dan kehadiran kecerdasan buatan dalam
kehidupan sehari-hari dan sistem pendidikan, sering muncul kekhawatiran bahwa
peran guru akan menyusut. Padahal, kenyataannya justru sebaliknya: peran guru
menjadi lebih penting, lebih mendalam, dan lebih manusiawi.
Terlebih dalam konteks pendidikan berbasis iman
(agama) – sesuai agama masing-masing – guru tidak hanya sebagai penyampai
pengetahuan, tetapi sebagai teladan iman dan agama, pendamping penuh cinta, dan
penunjuk arah moral di gugu dan di tiru
Guru Harus Berubah
Teknologi—termasuk AI—memang mampu menyediakan materi
pembelajaran, menjawab pertanyaan, memfasilitasi pembelajaran daring. Namun
guru tidak bisa digantikan dalam dua dimensi utama: dimensi
relasional-eksistensial dan dimensi nilai-moral/iman. Inilah “sisa” yang
tidak dimiliki oleh AI.
Di Indonesia, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa
guru di era digital/era Society 5.0 dituntut beralih dari peran
tradisional (penyampai materi) menjadi: fasilitator, inovator, pengguna aktif
teknologi. Guru juga berperan sebagai pendamping proses pembelajaran yang makin
personal, berbasis data, dan adaptif. Selain itu, guru adalah motivator dan
penghubung antara teknologi dan kebutuhan kemanusiaan dalam pembelajaran.
Meskipun begitu, riset juga menunjukkan bahwa
kompetensi digital dan kesiapan guru untuk memanfaatkan AI masih belum merata.
Artinya: pergeseran peran ini bukan otomatis terjadi — ia harus disertai
pelatihan, dukungan infrastruktur, dan perubahan paradigma.
Guru sebagai Teladan Iman dan Taqwa juga di tuntut
menguasai IPTEK
Dalam konteks pendidikan Indonesia yang berdasarkan
pada nilai-nilai Pancasila, maka guru memiliki muti-peran yang khas. Pertama,
guru sebagai teladan dalam iman dan agama masing-masing. Guru bukan hanya
menyampaikan pelajaran, tetapi hidup dengan nilai-nilai iman/agama, menghidupi
nilai cinta kasih sayang, keadilan, kesetaraan dan martabat manusia.
Sebagaimana dikatakan oleh tokoh pendidikan kita yaitu
Ki Hajar Dewantara: “Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut
wuri handayani” — yang artinya: di depan memberi contoh, di tengah
membangkitkan semangat, di belakang memberi dorongan. Guru yang baik di era
digital terus memberi contoh sikap, integritas, pelayanan—ini tak bisa
digantikan teknologi.
Kedua, guru sebagai pendamping penuh cinta. Cinta
dalam pendidikan bukan sentimentalitas saja, tetapi komitmen bahwa setiap murid
adalah ciptaan Allah yang diberi potensi dan martabat. Guru mendampingi proses,
menghargai keragaman, membangkitkan potensi, memberikan ruang tumbuh. Di era
AI, ketika banyak materi bisa diprogram, aspek relasi-manusia memegang posisi
sentral.
Ketiga, guru sebagai penunjuk arah etika terhadap
teknologi. Penggunaan AI dan teknologi digital dalam pembelajaran membuka
banyak kesempatan — tetapi juga risiko: peralihan fokus ke men download
jawaban, plagiarisme, isolasi sosial, atau kehilangan kemampuan berpikir
kritis. Di sinilah guru hadir sebagai kompas etika: membimbing murid agar
teknologi digunakan untuk memanusiakan, bukan untuk mendewakan teknologi.
Tantangan dan Peluang
Ada beberapa tantangan yang nyata di lapangan,
terutama di negara kita. Pertama, kesenjangan infrastruktur dan kompetensi guru
digital — banyak sekolah dan guru belum siap untuk integrasi AI.
Kedua, kultur pembelajaran yang masih berorientasi
kepada guru sebagai satu-sumber, bukan pembelajaran kolaboratif, personalisasi,
dan berbasis media digital.
Ketiga, potensi teknologi yang belum diimbangi oleh
perhatian terhadap nilai-kemanusiaan dan iman: jika guru hanya fokus teknologi
tapi lupa membangun relasi, maka yang tumbuh adalah “teknologisasi” pendidikan,
bukan “edukasi manusia”.
Namun, di sisi lain, peluang sangat besar.
Pertama, AI dan digital bisa membantu guru melakukan diferensiasi pembelajaran,
mengenali gaya belajar murid, memberikan feedback lebih
cepat—membebaskan guru dari beban administratif ke tugas yang lebih
“manusiawi”.
Misalnya Guru dapat menggunakan ChatGPT, Gemini Dola
Dan lainya untuk membuat tiga versi materi sekaligus: mudah, sedang, dan
lanjutan. Google Classroom dengan analitik AI juga dapat menunjukkan jam
belajar murid, preferensi media (video/teks), dan konsistensi pengerjaan tugas.
Grammarly atau Microsoft 365 memberi saran perbaikan tata bahasa.
AI juga membantu membuat RPP, rubrik penilaian, laporan perkembangan, atau
surat kepada orang tua.
Kedua, guru dengan iman dan cinta bisa menjadikan
teknologi bukan sebagai kompetitor, tetapi sebagai alat pelayanan untuk
memperluas jangkauan, memperkaya pengalaman, memperdalam makna pembelajaran.
Ketiga, pendidikan berbasis iman dan cinta menjadi
nilai lebih yang tidak bisa digantikan: dalam dunia yang makin terotomatisasi,
aspek relasional, kepekaan sosial, pembentukan karakter akan semakin dibutuhkan
dan Guru harus menjadi Model yang berakhlakulkarimah....
