Oleh: Aulia Sukendar
"Pa Guru, kalau bensin harganya naik, apakah mobil Pak Guru juga jadi lebih cepat majunya?”
Pertanyaan polos itu meluncur dari mulut Bimo, anak didik saya yang berusia 5 tahun, tepat saat saya sedang mencoba menyalakan kipas angin tua di ruang guru. Kipas itu berderit-derit, seolah protes karena listrik juga mulai terasa ‘berat’ di kantong. Saya tertawa kecil, meski dalam hati ada sedikit geli yang pahit. Logika anak-anak memang selalu lurus, sementara logika ekonomi kita? Seringkali berbelit-belit seperti tali sepatu yang belum diikat.
Sore itu, selepas anak-anak pulang, suasana ruang guru terasa berbeda. Bukan karena AC yang mati (kami memang jarang menyalakannya demi penghematan), tapi karena obrolan hangat antara saya sebagai Kepala Sekolah dan tiga guru andalan saya: Bu Ai, Bu Erni, dan Bu Rani. Di atas meja, selain tumpukan RPP yang belum selesai, tersaji secangkir kopi tubruk dan sepiring gorengan yang sudah agak dingin. Topiknya? Klasik, namun selalu fresh: Harga BBM yang meroket dan nasib guru PAUD yang masih sering dianggap "hobi mulia" daripada profesi profesional.
“Gila ya, Pak,” keluh Bu Rani sambil menyeruput teh manisnya. “Tadi saya isi motor cuma dua puluh ribu, eh jarumnya nggak bergerak sama sekali. Rasanya kayak ngasih uang jajan ke anak TK, habis dalam sekejap. Padahal jarak rumah ke sini cuma dua kilometer. Kalau begini terus, mending saya jalan kaki sambil senam aerobic. Lumayan buat kesehatan, kan?”
Kami tertawa. Tawa itu renyah, tapi ada gurihnya keprihatinan di sana. Bu Ai, yang biasanya paling kalem, kali ini menghela napas panjang. Ia memainkan ujung kerudungnya, tatapannya kosong menatap struk belanjaan yang tergeletak di samping tasnya.
“Bukan cuma bensin, Bu Rani,” kata Bu Ai pelan. “Harga telur aja udah kayak emas batangan. Kemarin saya mau bikin peraga edukasi dari bahan bekas, eh malah kepikiran buat masak. Telur tiga butir habis separuh gaji harian. Kadang saya mikir, apa iya sih kita ini disebut ‘guru’? Statusnya nggak jelas, insentifnya nggak pasti, tapi tuntutan kerjanya? Full 24 jam secara mental.”
Bu Erni mengangguk setuju, matanya tajam menatap saya. “Iya, Pak Kepsek. Orang luar lihat kami cuma ‘jagain anak’. Mereka nggak lihat kalau kami ini multitasking level dewa. Jadi guru, jadi ibu kedua, jadi mediator konflik antar balita, jadi dokter cilik, bahkan kadang jadi tukang ojek dadakan kalau orang tua telat ambil anak. Tapi pas ditanya status kepegawaian? Kita cuma bisa tersenyum kecut dan bilang, ‘Masih proses, Bu’.”
Saya mendengarkan mereka. Sebagai kepala sekolah, saya merasakan beban itu berkali-kali lipat. Saya melihat bagaimana mereka datang dengan senyum lebar, menyembunyikan lelah di balik mata panda, dan pulang dengan sisa energi yang pas-pasan untuk keluarga mereka sendiri. Kenaikan harga BBM bukan sekadar angka di pom bensin; itu adalah simbol dari betapa mahalnya biaya untuk tetap menjadi "baik" dan "profesional" di tengah sistem yang belum sepenuhnya memihak.
Di tengah obrolan yang mulai berat, tiba-tiba pintu ruang guru terbuka. Ternyata ada satu anak, Adit, yang tertinggal karena ibunya sedang rapat darurat. Dia masuk dengan wajah bingung, memegang mainan robotnya.
“Bu Guru, kenapa wajahnya sedih semua?” tanya Adit lugu. “Apakah kalian kalah main bola?”
Bu Rani langsung berubah ekspresi. Ia berjongkok, menyamakan tinggi badannya dengan Adit. “Nggak, Dit. Kami lagi diskusi soal... strategi perang melawan monster harga-harga,” jawab Bu Rani setengah bercanda.
Adit mengerutkan kening. “Monster harga-harga? Itu monsternya makan bensin ya? Kalau gitu, kasih saja dia mainan robotku. Nanti dia senang, terus harganya turun deh.”
Kami terdiam. Lalu, kami tertawa. Kali ini, tawanya lepas dan melegakan. Logika Adit sederhana: jika ada masalah, beri solusi yang membuat bahagia. Mungkin dunia dewasa terlalu rumit. Kita sibuk menghitung rupiah, menghitung status, menghitung pengakuan, sampai lupa menghitung nilai dari apa yang kita lakukan setiap hari.
Saat itulah saya menyadari sesuatu. Ya, status kami mungkin belum diakui sepenuhnya oleh negara. Insentif kami mungkin belum sebanding dengan keringat yang mengucur. BBM mungkin naik, dan harga kebutuhan pokok mungkin makin menjulang. Tapi, ada satu hal yang tidak bisa dinaikkan harganya oleh inflasi manapun: Dampak.
Setiap kali Bu Ai berhasil membuat anak pemalu berani bernyanyi, itu adalah investasi tak ternilai. Setiap kali Bu Erni sabar menghadapi tantrum, itu adalah pelajaran emosional yang akan dibawa anak itu seumur hidup. Setiap kali Bu Rani mengajarkan cara berbagi mainan, ia sedang membangun fondasi masyarakat yang adil.
Kita mungkin tidak punya kartu pegawai negeri yang tebal, atau slip gaji yang fantastis. Tapi kita punya "slip hati" dari ratusan anak yang tumbuh menjadi manusia baik karena sentuhan kita. Itu adalah pengakuan tertinggi.
“Dengar, Ibu-ibu,” kata saya, menutup obrolan sore itu. “Kita tidak bisa mengendalikan harga BBM. Kita juga tidak bisa mengubah regulasi semalam. Tapi kita bisa mengendalikan narasi. Kita adalah Guru PAUD. Bukan 'penjaga anak'. Bukan 'relawan'. Kita adalah arsitek awal dari karakter bangsa. Mari terus menuntut hak kita, yes. Mari bersuara lantang di asosiasi, di media, di mana pun. Tapi jangan biarkan ketidakjelasan status mematikan api di dada kita. Karena anak-anak seperti Adit tidak butuh guru yang kaya raya. Mereka butuh guru yang hadir utuh, yang cintanya tidak dipengaruhi oleh harga pertamax.”
Bu Rani mengacungkan jempol. “Siap, Pak! Besok saya datang dengan semangat baru. Walau motor saya (mungkin) harus didorong sedikit di tanjakan.”
Kami tertawa lagi. Sore itu berakhir dengan janji untuk terus berjuang, bukan hanya untuk diri sendiri, tapi untuk martabat profesi yang kita cintai.
Kepada sesama guru PAUD di luar sana: Kalian tidak sendirian. Keluh kesahmu valid, lelahmu nyata, tapi kontribusimu? Tak tergantikan. Teruslah bersinar, walau lampu hemat energi sedang mati.
Dan untuk para orang tua serta masyarakat: Jika hari ini Anda bertemu guru PAUD, berikanlah mereka lebih dari sekadar ucapan terima kasih. Berikanlah pengakuan. Karena mereka sedang menjaga masa depan Anda, dengan biaya yang seringkali mereka tanggung sendiri.
Punya cerita serupa tentang perjuanganmu sebagai pendidik di tengah tantangan ekonomi? Atau punya tips unik mengajar dengan budget minim tapi dampak maksimal? Yuk, share di kolom komentar! Mari kita saling menguatkan, karena guru yang bahagia menciptakan murid yang bahagia. 👇✨ #GuruPAUD #PahlawanTanpaTandaJasa #LiterasiKehidupan
