
Oleh Intan Purnamasari, S.Pd., Guru RA Al Mujahidin
Ada pertemuan yang dirayakan dengan tawa. Ada perpisahan yang diiringi air mata. Dan ada hari istimewa yang menghadirkan keduanya sekaligus.
Tanggal
16 Juni 2026 menjadi salah satu hari yang akan lama tersimpan dalam ingatan
keluarga besar RA Al Mujahidin. Bertempat di Palace Hotel, kami menggelar
Pelepasan dan Pentas Seni Angkatan 2025/2026. Sebuah momen yang telah lama
dinantikan, namun juga membuat hati terasa berat. Sebab kami tahu, setelah hari
itu, anak-anak akan melanjutkan perjalanan mereka ke jenjang berikutnya.
Sejak
pagi, aula dipenuhi wajah-wajah ceria. Anak-anak datang dengan pakaian terbaik
mereka. Orang tua sibuk mengabadikan setiap momen. Semua ingin menyimpan
kenangan hari itu sebanyak dan selama mungkin.
Acara
diawali dengan sambutan Kepala Madrasah, Ibu Ani Rosmiati, S.Pd., M.Pd. Dalam
sambutannya, beliau menyampaikan terima kasih kepada seluruh orang tua yang
telah mempercayakan putra-putrinya kepada RA Al Mujahidin. Beliau juga
menyampaikan bahwa hari itu kami mengembalikan kembali anak-anak kepada
mamah-mamahnya.
Kalimat
sederhana itu terasa begitu dalam. Selama dua tahun terakhir, kami menyaksikan
tumbuh kembang mereka; dari anak-anak yang masih malu-malu saat masuk kelas
hingga menjadi pribadi yang lebih mandiri dan percaya diri.
Kegiatan
inti diawali dengan pembagian rapor. Satu per satu anak maju ke depan, disertai
tayangan video yang menampilkan mereka dalam sosok cita-cita masa depan. Ada
yang menjadi dokter, pilot, polisi, guru, chef, hingga pemadam kebakaran.
Tepuk
tangan dan seruan bangga terdengar dari berbagai sudut ruangan.
Sejenak
kami seperti diajak mengintip masa depan melalui mimpi-mimpi kecil mereka.
Sebab
setiap anak yang duduk di bangku RA hari ini sedang menulis bab pertama dalam
kisah hidupnya.
Suasana
haru semakin terasa saat prosesi Wisuda Tahfidz. Anak-anak yang telah mencapai
target hafalan maju dengan penuh percaya diri, lalu memberikan mahkota kepada
orang tua mereka.
Momen
sederhana itu membuat banyak mata berkaca-kaca. Mahkota tersebut bukan sekadar
simbol keberhasilan hafalan, tetapi juga penghargaan atas doa, kesabaran, dan
perjuangan orang tua yang selalu mendampingi putra-putrinya.
Setelah
itu, suasana berubah menjadi lebih meriah. Anak-anak menampilkan berbagai
tarian dan pertunjukan dengan penuh semangat. Ada yang tampil percaya diri, ada
yang sesekali melirik ke arah mamahnya, dan ada pula yang lebih sibuk
melambaikan tangan kepada penonton.
Namun
justru di situlah keindahannya.
Kesempurnaan
bukanlah tujuan pentas anak usia dini. Keberanian mereka untuk tampil dan
mengekspresikan diri adalah pencapaian yang sesungguhnya.
Menjelang
akhir acara, kejutan hadir dari para mamah. Dengan penuh semangat, mereka
menampilkan sebuah tarian yang langsung menghidupkan suasana. Tawa, tepuk
tangan, dan sorak sorai memenuhi ruangan. Bunda-bunda guru pun ikut menari
bersama.
Saat
itu, tidak ada lagi sekat antara guru dan orang tua. Kami tertawa bersama,
menari bersama, dan merayakan kebahagiaan yang sama.
Kami
hanyalah sekelompok orang dewasa yang dipersatukan oleh cinta kepada anak-anak.
Namun
seperti semua kisah yang indah, tibalah saatnya untuk berpamitan.
Dalam
sesi bersalaman, bunda-bunda guru berjajar menyambut orang tua dan anak-anak
yang datang satu per satu. Tangan saling menggenggam. Ucapan terima kasih dan
permohonan maaf saling dipertukarkan.
Kami
yang sejak pagi sibuk mengatur acara dan mendampingi anak-anak akhirnya harus
menghadapi tantangan yang paling sulit: menahan air mata.
Ternyata
gagal.
Air
mata itu akhirnya jatuh juga.
Anak-anak
yang dulu datang dengan langkah ragu kini berpamitan dengan lebih percaya diri.
Mereka mungkin belum memahami sepenuhnya arti sebuah perpisahan. Namun kami
tahu bahwa hari itu adalah penutup dari sebuah bab yang indah.
Terima
kasih atas kepercayaan yang telah diberikan kepada kami. Mohon maaf atas segala
kekurangan selama membersamai putra-putri tercinta.
Dan
untuk anak-anak hebat Angkatan 2025/2026, teruslah melangkah.
Jadilah
anak yang baik sebelum menjadi anak yang hebat. Jadilah anak yang berakhlak
sebelum menjadi anak yang berhasil.
Karena
dunia selalu membutuhkan orang pintar, tetapi dunia akan jauh lebih indah jika
dipenuhi oleh orang-orang yang baik.
Selamat
jalan, anak-anak hebat.
Mungkin suatu hari kalian akan melupakan banyak hal tentang kami. Namun percayalah, kami tidak akan pernah melupakan kalian.
