Oleh : Aulia Sukendar
Ketika pemerintah Indonesia mendorong kebijakan Wajib Belajar 13 Tahun, perhatian terhadap Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) semakin mendapatkan tempat penting dalam percakapan pendidikan nasional. Kebijakan ini membawa pesan yang sangat jelas: pendidikan anak tidak boleh baru mendapatkan perhatian ketika anak memasuki sekolah dasar.
Menariknya, di tengah semangat tersebut muncul dua diksi yang digunakan oleh organisasi atau komunitas yang bergerak di bidang pendidikan anak usia dini. Ada yang menggunakan slogan “pendidikan dimulai dari pendidikan anak usia dini”, sementara yang lain memilih diksi “pendidikan dimulai dari prasekolah.” Sekilas keduanya tampak sama. Namun jika dilihat dari perspektif terminologi pendidikan dan kebijakan nasional, keduanya memiliki cakupan dan penekanan yang berbeda.
Lantas, mana yang lebih tepat?
PAUD dan prasekolah bukan sepenuhnya istilah yang sama
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kita perlu terlebih dahulu memahami istilahnya.
PAUD merupakan istilah yang memiliki cakupan luas. Dalam kerangka Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pendidikan Anak Usia Dini merupakan upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan memasuki pendidikan lebih lanjut. PAUD dapat diselenggarakan melalui jalur formal, nonformal, dan informal.
Artinya, ketika seseorang mengatakan “pendidikan dimulai dari PAUD”, secara konseptual pernyataan tersebut memiliki landasan yang kuat. Pendidikan anak memang perlu dipandang sejak usia dini, bahkan sejak anak berada pada lingkungan keluarga.
Sementara itu, istilah prasekolah memiliki penekanan yang lebih spesifik, yaitu pendidikan yang diberikan sebelum anak memasuki pendidikan dasar. Secara historis, istilah pendidikan prasekolah bahkan telah digunakan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1990 tentang Pendidikan Prasekolah. Regulasi tersebut menjelaskan bahwa pendidikan prasekolah diberikan kepada anak sebelum memasuki pendidikan dasar untuk membantu meletakkan dasar perkembangan sikap, pengetahuan, keterampilan, dan daya cipta.
Dengan demikian, PAUD dapat dipahami sebagai istilah yang lebih luas, sedangkan prasekolah lebih menekankan fungsi pendidikan sebelum anak memasuki SD.
Lalu bagaimana dengan Wajib Belajar 13 Tahun?
Di sinilah persoalan diksi menjadi sangat menarik.
Dalam kebijakan yang sedang didorong pemerintah pada 2026, Wajib Belajar 13 Tahun dirancang dengan menambahkan satu tahun pendidikan prasekolah. Kemendikdasmen secara eksplisit menggunakan istilah “Grand Design Wajib Belajar 13 Tahun: 1 Tahun Prasekolah Jadi Fondasi Generasi Emas.”
Dalam sosialisasi kebijakan tersebut, pemerintah juga menjelaskan bahwa Wajib Belajar 13 Tahun mencakup pendidikan dasar serta satu tahun kelas prasekolah. Fokusnya adalah memastikan anak mendapatkan layanan pendidikan berkualitas sebelum memasuki pendidikan dasar.
Karena itu, apabila konteks pembicaraannya adalah Wajib Belajar 13 Tahun, maka secara terminologis slogan “pendidikan dimulai dari prasekolah” memiliki tingkat presisi yang lebih tinggi.
Bahkan pada 2025, Kemendikdasmen telah menyampaikan bahwa Wajib Belajar 13 Tahun terdiri atas 12 tahun pendidikan dasar dan menengah ditambah satu tahun prasekolah.
Namun, bukan berarti slogan “pendidikan dimulai dari PAUD” salah.
Justru sebaliknya. Slogan tersebut lebih luas secara filosofis.
“PAUD” lebih kuat untuk menggambarkan fondasi pendidikan anak
PAUD tidak hanya berbicara tentang satu tahun sebelum SD. PAUD berbicara mengenai sebuah fase perkembangan anak yang sangat penting.
Anak usia dini membutuhkan stimulasi yang sesuai dengan tahap perkembangannya, bukan sekadar persiapan akademik menuju SD. Bermain, bergerak, berkomunikasi, bersosialisasi, membangun kemandirian, mengenal nilai agama dan moral, mengembangkan bahasa, mengelola emosi, serta membangun rasa percaya diri merupakan bagian penting dari pendidikan anak.
Hal tersebut sejalan dengan penekanan pemerintah bahwa pendidikan usia dini merupakan fondasi perkembangan motorik, intelektual, sosial, dan spiritual anak. Pemerintah juga menekankan pentingnya pembelajaran yang menyenangkan, ramah anak, memberi ruang bermain, berimajinasi, bertanya, bekerja sama, dan berkomunikasi.
Oleh karena itu, penggunaan diksi “pendidikan dimulai dari PAUD” memiliki kekuatan pesan bahwa pendidikan tidak boleh baru dimulai ketika anak berusia enam atau tujuh tahun.
Bahkan pemerintah sendiri dalam beberapa komunikasi publik menyebut PAUD/TK sebagai fondasi penting proses pendidikan dan pembentukan karakter anak.
Tetapi “prasekolah” lebih tepat untuk konteks kebijakan Wajib Belajar 13 Tahun
Di sisi lain, jika organisasi sedang berbicara secara spesifik mengenai implementasi Wajib Belajar 13 Tahun, menggunakan istilah prasekolah justru dapat menghindarkan kesalahpahaman.
Sebab yang sedang diperjuangkan pemerintah bukan berarti seluruh rentang PAUD sejak lahir otomatis menjadi 13 tahun wajib belajar. Yang ditambahkan dalam desain kebijakan tersebut adalah satu tahun prasekolah sebelum pendidikan dasar.
Ini merupakan perbedaan yang penting.
Dengan kata lain:
PAUD adalah perspektif perkembangan dan layanan pendidikan anak usia dini yang lebih luas.
Sedangkan:
Prasekolah adalah istilah yang lebih spesifik untuk pendidikan sebelum memasuki sekolah dasar, terutama ketika dikaitkan dengan satu tahun tambahan dalam Wajib Belajar 13 Tahun.
Karena itu, kedua slogan sebenarnya tidak perlu dipertentangkan.
Diksi mana yang paling relevan?
Menurut saya, jawabannya bergantung pada konteks.
Jika tujuan slogan adalah membangun kesadaran masyarakat bahwa pendidikan dan stimulasi anak harus diperhatikan sejak usia dini, maka “Pendidikan Dimulai dari PAUD” lebih kuat, komunikatif, dan memiliki cakupan filosofis yang luas.
Tetapi jika konteksnya adalah menjelaskan kebijakan Wajib Belajar 13 Tahun, maka “Pendidikan Dimulai dari Prasekolah” lebih presisi secara kebijakan.
Bahkan, pilihan yang menurut saya paling kuat adalah menggabungkan keduanya:
“Pendidikan Dimulai Sejak Usia Dini, Wajib Belajar 13 Tahun Diperkuat melalui Satu Tahun Prasekolah.”
Diksi ini relatif aman karena tidak mempertentangkan PAUD dengan prasekolah. Ia menempatkan keduanya dalam posisi yang tepat.
Jangan sampai slogan menggeser makna PAUD
Hal yang jauh lebih penting daripada memilih slogan adalah memastikan jangan sampai kebijakan wajib belajar membuat PAUD berubah menjadi “mini SD”.
Anak usia dini bukanlah siswa SD dalam ukuran kecil.
Program prasekolah harus tetap menghargai karakteristik perkembangan anak. Pemerintah sendiri menekankan pentingnya pembelajaran yang menyenangkan, bermain, eksplorasi, imajinasi, interaksi sosial, dan pengembangan karakter.
Maka, keberhasilan Wajib Belajar 13 Tahun seharusnya tidak hanya diukur dari berapa banyak anak masuk TK, tetapi juga dari apakah anak memperoleh pengalaman belajar yang bermutu, aman, menyenangkan, inklusif, dan sesuai tahap perkembangannya.
Pada akhirnya, persoalan sebenarnya bukan sekadar apakah kita menggunakan kata PAUD atau prasekolah.
Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah: apakah kita benar-benar menempatkan pendidikan anak usia dini sebagai fondasi pembangunan manusia Indonesia?
Jika jawabannya ya, maka PAUD harus diperkuat sebagai ekosistem pendidikan sejak usia dini. Sementara satu tahun prasekolah harus dipastikan menjadi jembatan berkualitas menuju pendidikan dasar.
Jadi, “pendidikan dimulai dari PAUD” lebih tepat untuk pesan filosofis dan gerakan pendidikan anak usia dini secara luas, sedangkan “pendidikan dimulai dari prasekolah” lebih tepat untuk konteks teknis kebijakan Wajib Belajar 13 Tahun.
Yang paling bijak bukan memilih salah satu lalu menyalahkan yang lain, melainkan memahami konteks penggunaannya. Karena pada hakikatnya, keduanya memiliki tujuan yang sama: memastikan setiap anak Indonesia memperoleh fondasi pendidikan yang baik sebelum melangkah ke jenjang berikutnya.
