Oleh : Iis Safuroh,M.Pd.I (Pegiat Literasi, Praktisi Pendidikan)
CIANJUR — “Nanti besar mau jadi apa? Ikut bapak aja jadi PNS.”
“Nak, les piano ya. Dulu ibu nggak sempat.”
Percakapan seperti ini akrab di banyak rumah. Tanpa sadar, orang tua sering ingin menjadikan anak sebagai "versi kedua" dari dirinya. Padahal para ahli psikologi dan tumbuh kembang anak menegaskan bahwa anak tidak harus sama dengan orang tuanya.
Setiap anak lahir dengan paket genetik, minat, dan keunikan sendiri. Lingkungan sekolah, teman, media sosial, dan pengalaman hidup turut membentuk siapa dia nantinya. Memaksa anak mengikuti cetakan orang tua justru bisa memicu stres, rasa tidak percaya diri, hingga kerenggangan hubungan dalam keluarga.
Data Kemenkes 2025 menunjukkan 1 dari 3 anak usia sekolah mengalami tekanan psikis karena ekspektasi akademik dan karier dari orang tua. Padahal kebahagiaan dan kesuksesan tidak melulu soal profesi yang sama.
“Tugas orang tua bukan mencetak, tapi mendampingi. Kenali dulu anak kita, bukan memaksa dia jadi kita,” kata Dr. Ratna Dewi,M.Psi..
Menemukan Benang Merah: Pola Asuh Positif
Jika "menjadi sama" bukan tujuannya, lalu apa yang perlu disamakan? Jawabannya: pola asuh.
Para ahli menyebutnya sebagai benang merah antara pola asuh dan tumbuh kembang anak. Ketika ayah dan ibu punya pesan, sikap, dan cara mendidik yang sejalan, anak tumbuh dengan rasa aman. Dan dari rasa aman itulah muncul anak yang bahagia dan berpeluang besar sukses.
Ada 3 benang merah yang bisa dijaga orang tua setiap hari:
1. Validasi, Bukan Membandingkan
Hindari kalimat "Lihat anak tetangga ranking 1". Ganti dengan "Ibu bangga kamu sudah berusaha". Anak yang merasa diterima akan lebih berani mencoba dan tidak takut gagal.
2. Konsisten antara Kata dan Perbuatan
Sulit meminta anak disiplin jika jadwal orang tua berantakan. Sulit meminta anak jujur jika orang tua sering berbohong kecil. Anak belajar dari teladan, bukan dari ceramah.
3. Fokus pada Proses, Bukan Hasil
Alih-alih bertanya "Juara berapa?", tanyakan "Hari ini kamu belajar hal baru apa?". Pola ini menumbuhkan growth mindset — keyakinan bahwa kemampuan bisa diasah dengan usaha.
Riset Universitas Indonesia 2024 menemukan anak yang tumbuh dengan sugesti positif konsisten dari orang tua memiliki resiliensi 40% lebih tinggi dan risiko depresi lebih rendah.
Verifikasi: Penyakit Anak yang Wajib Diketahui Orang Tua
Berbeda dengan cita-cita, soal kesehatan tidak bisa diserahkan pada pilihan anak. Orang tua wajib punya pengetahuan yang sama agar penanganan tidak terlambat.
1. Demam Berdarah Dengue - DBD
Ciri: Demam tinggi mendadak 2-7 hari, nyeri kepala, nyeri otot, muncul bintik merah di kulit.
Aksi: Segera ke puskesmas/RS jika demam >3 hari disertai lemas. Puncak bahaya ada di hari ke-3 sampai ke-5.
2. ISPA dan Pneumonia
Tanda-tandanya Batuk pilek, napas cepat, dada tertarik ke dalam saat bernapas, bibir kebiruan.
Kemenkes mencatat pneumonia masih jadi penyebab kematian tertinggi pada balita di Indonesia.
3. Diare Akut
Indikasinya BAB cair lebih dari 3 kali dalam 24 jam. Bahaya utamanya dehidrasi.
Beri oralit/larutan gula garam dan teruskan ASI atau makanan. Bawa ke fasilitas kesehatan jika anak muntah terus atau tidak mau minum.
4. Kejang Demam
Ciri Kejang saat demam >38.5°C, umumnya usia 6 bulan - 5 tahun.
Jangan masukkan apapun ke mulut. Miringkan badan, longgarkan baju. Konsultasi ke dokter anak untuk evaluasi lanjutan.
5. Tanda Gangguan Tumbuh Kembang
Yang wajib dipantau Belum bicara 2 kata di usia 2 tahun, tidak ada kontak mata di usia 1 tahun, tidak merespon saat dipanggil nama. Deteksi dini lewat buku KIA dan posyandu sangat membantu.
dr. Andi Pratama, Sp.A dari RSUD Cianjur mengingatkan 5 tanda gawat darurat: tidak mau minum, muntah terus, kejang, lemas, dan napas susah. "Jika ada salah satunya, jangan ditunda. Segera ke layanan kesehatan."
Anak boleh berbeda dalam cita-cita, hobi, dan cara pandangnya. Biarkan dia menemukan jalannya sendiri.
Tapi untuk satu hal, orang tua harus sejalan dalam pola asuh, nilai, dan kepedulian terhadap kesehatan.
Saat benang merah itu kuat, rumah menjadi tempat paling aman untuk tumbuh. Dan dari rumah yang aman itulah, lahir anak-anak yang bahagia hari ini, dan sukses di masa depan.

